Jumat, 29 Maret 2013

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE BUZZ GROUP PADA KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN DI SMP MUHAMMADIYAH BANDA ACEH


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar  Belakang Masalah
            Telah banyak orang memperbincangkan tentang era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan persaingan baik itu persaingan fisik maupun non fisik. Orang yang akan berhasil di masa yang akan datang adalah mereka yang memiliki kekuatan fisik dan mental yang tangguh dan unggul dalam bersaing dengan insan lain, baik di kalangan bangsanya sendiri maupun bangsa lainnya.
            Namun yang menjadi masalah dan yang selalu dikeluhkan masyarakat sekarang ini adalah mutu lulusan lembaga-lembaga pendidikan sekarang masih jauh dari yang diharapkan. Lembaga-lembaga pendidikan lebih terkesan meningkatkan kuantitas lulusannya daripada kualitasnya, hal ini menyebabkan pengangguran dari semua jenjang pendidikan.
            Sekolah adalah perangkat pendidikan yang menunjang perkembangan ilmu pendidikan. Mengingat pentingnya biologi maka pengajaran biologi diberbagai jenjang pendidikan sudah sewajarnya dikembangkan dan diperhatikan. Namun di kalangan siswa sudah sering beredar bahwa biologi merupakan mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa kurang berminat mendalami biologi dan menyebabkan hasil belajar biologi rendah. Dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan adanya pendirian sebagai kebijakan ideologi yang mempunyai visi tertentu terhadap pendidikan. Kaitan dengan pendidikan secara bersamaan muncul permasalahan, permasalahan pendidikan yang perlu dicarikan pemecahannya.
            Berdasarkan hasil wawancara singkat yang peneliti lakukan dengan salah satu guru bidang studi biologi  di SMP Muhammadiyah Banda Aceh bahwa nilai rata-rata biologi mencapai 6,2. Nilai rata-rata ini masih rendah, karena tidak mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, dimana ketuntasan klasikal untuk mata pelajaran biologi di SMP Muhammadiyah Banda Aceh adalah 6,3.
            Rendahnya prestasi belajar siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada mata pelajaran biologi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya minat dan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar. Minat dan motivasi siswa bisa ditingkatkan dengan pemilihan strategi atau model pembelajaran yang tepat. Setiap siswa mempunyai cara atau gaya sendiri dalam belajarnya seperti cara belajar dengan cara melihat (visual), dengan cara mendengar (auditory) atau dengan cara bekerja, bergerak atau menyentuh (kinestetik). Untuk mendukung gaya siswa dalam belajar perlu dikembangkan sistem belajar yang efektif. Dalam belajar selalu ciptakan mood yang positif, fokuskan mempelajari pelajaran yang tidak kamu pahami, ulanglah materi pelajaran dan kembangkan materi yang telah dipelajari selain itu ketahuilah kesulitan-kesulitan belajar dan melengkapi sumber utama belajar.
            Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa adalah dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk berperan aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, tidak hanya itu siswa juga bisa saling mengajar dengan siswa lainnya. Selain itu metode kooperatif menanamkan pada siswa bahwa mereka memiliki peranan yang sama untuk mencapai tujuan akhir belajar, penguasaan materi pelajaran dan keberhasilan belajar yang tidak semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tapi merupakan tanggung jawab bersama.
            Robert E Slavin mengemukakan bahwa “kooperatif pada dasarnya merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil serta kolaboratif anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompok yang heterogen”[1]. Sagala mengemukakan dampak positif dari belajar kelompok adalah ”dapat menimbulkan kesadaran akan adanya kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh”[2].
            Robert E. Slavin juga mengemukakan bahwa kooperatif akan menghasilkan “cooperative behaviours and attitudes that contributed to be success and/of failure of these group”,[3] maksudnya adalah bekerjasama menghasilkan sikap dan perilaku yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan/atau kegagalan kelompok tersebut dalam mencapai tujuan belajar. menambahkan bahwa aspek lain yang dapat berkembang dalam pelaksanaan metode cooperative learning adalah sikap saling tolong menolong dan tolong menolong merupakan salah satu sikap positif dalam perilaku sosial seseorang.
            Pembelajaran kooperatif dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran biasa, karena melalui kooperatif siswa lebih leluasa untuk saling memberi dan menerima materi tanpa rasa segan. Sesuai yang dikatakan Lie bahwa: “Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh guru dikarenakan mereka memiliki schemata yang hampir sama dibandingkan dengan schemata guru”.[4]
            Hal ini sangat berbeda bila guru hanya mengandalkan metode ceramah sebagai salah satu upaya dalam menyampaikan materi pelajaran. Metode ceramah adalah suatu metode yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok persoalan atau masalah secara lisan. Dengan metode ceramah, guru akan mudah mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran, disebabkan mereka melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit mengontrol sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan.
            Materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan merupakan materi yang sulit dipahami oleh para siswa, dimana pada materi tersebut para siswa dituntut untuk menghafal dan mengingat semua struktur dan fungsi jaringan tumbuhan, yang jumlahnya sangat banyak, sehingga membuat para siswa menjadi bingung. Dalam menghadapi situasi seperti ini, diperlukan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam forum diskusi, hal ini akan berdampak pada daya ingat siswa, karena siswa terlibat langsung dalam diskusi, yang secara langsung partisipasi siswa di dalam diskusi tersebut akan membekas dalam ingatan para siswa. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang tepat untuk diterapkan dalam materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan adalah model pembelajaran kooperatif tipe buzz group.
            Model kooperatif tipe buzz group merupakan bagian dari metode diskusi, dimana dalam metode ini anggotanya berjumlah 3-4 orang dan waktu yang digunakan juga relatif lebih singkat. Menurut Slameto “kelompok studi kecil (Buzz Group) adalah pemecahan kelompok yang lebih besar. Kelompok kecil ini membahas tugas yang diberikan, dan biasanya melaporkan pada kelompok yang lebih besar.”[5] Sedangkan Dimyati mengatakan bahwa ”jenis diskusi kelompok kecil yang beranggota 3-4 orang yang bertamu secara bersama-sama membicarakan suatu topik yang sebelumnya telah dibicarakan secara klasikal.”[6]
            Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi ini yang dapat diadakan di tengah atau di akhir jam pelajaran dengan maksud menajamkan rangka isi pelajaran, memperjelas isi pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
            Hasil observasi awal yang peneliti lakukan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh, khususnya di kelas VIII pada pembelajaran biologi, terlihat bahwa kegiatan belajar mengajar masih bersifat terpusat kepada guru, sehingga para siswa menjadi tidak fokus, dan banyak para siswa yang hanya bermain dan bersenda gurau dengan teman sebangkunya. Hal ini secara langsung berpengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan guru, yang juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar tersebut hanya guru saja yang aktif, berceramah, dan berbicara sendirian di depan kelas, padahal materi pembelajaran biologi bersifat hafalan yang menuntut siswa untuk mampu mengingat semua materi yang disampaikan. Namun, jika kegiatan belajar mengajar yang hanya bersifat terpusat kepada guru, tanpa melibatkan keaktifan para siswa, tujuan yang hendak dicapai di akhir pembelajaran tidak akan tercapai.
            Sehubungan dengan hal di atas maka pembelajaran diskusi dengan menggunakan tipe buzz group adalah menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku bahan ajar tetapi juga sesama siswa. Dengan demikian maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian eksperimen di SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan judul ”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Buzz Group Pada Konsep Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.”

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
1)   Apakah hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe buzz group pada konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh?”
2)   Bagaimanakah respon siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe buzz group?

C. Penjelasan Istilah
             Untuk menghindari terjadinya salah pentafsiran bagi para pembaca maka penulis akan memberikan beberapa pengertian istilah dalam proposal ini:
1.      Prestasi belajar dalam penelitian ini adalah penilaian hasil kegiatan belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.
2.      Pembelajaran kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi dimana setiap anggota tim bertanggungjawab untuk materi belajar yang ditugaskan kepadanya, kemudian mengajarkan materi tersebut dalam kelompok kecil dan mempersentasekannya dalam kelompok besar dengan menyuruh salah satu pelapor dari setiap kelompok. Teknik pembelajaran ini merupakan salah satu usaha guru melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.[7]
3.      Konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan merupakan konsep yang diajarkan di kelas VIII semester I pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar kompetensi konsep ini berupa memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan, dengan kompetensi dasar mengidentifikasi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan..
4.      SMP Muhammadiyah Banda Aceh merupakan salah satu sekolah menengah tingkat pertama swasta yang berada di kota Banda Aceh, tepatnya terletak di Jalan Prof. A Majid Ibrahim Lampaseh Kota Banda Aceh. SMP Muhammadiyah Banda Aceh ini merupakan SMP yang peneliti pilih sebagai tempat untuk melakukan penelitian, hal ini dikarenakan proses belajar mengajar di SMP Muhammadiyah Banda Aceh masih bersifat konvensional, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian eksperimen di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar