BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Telah banyak orang
memperbincangkan tentang era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan
persaingan baik itu persaingan fisik maupun non fisik. Orang yang akan berhasil
di masa yang akan datang adalah mereka yang memiliki kekuatan fisik dan mental
yang tangguh dan unggul dalam bersaing dengan insan lain, baik di kalangan
bangsanya sendiri maupun bangsa lainnya.
Namun yang menjadi
masalah dan yang selalu dikeluhkan masyarakat sekarang ini adalah mutu lulusan
lembaga-lembaga pendidikan sekarang masih jauh dari yang diharapkan. Lembaga-lembaga
pendidikan lebih terkesan meningkatkan kuantitas lulusannya daripada
kualitasnya, hal ini menyebabkan pengangguran dari semua jenjang pendidikan.
Sekolah adalah
perangkat pendidikan yang menunjang perkembangan ilmu pendidikan. Mengingat
pentingnya biologi maka pengajaran biologi diberbagai jenjang pendidikan sudah
sewajarnya dikembangkan dan diperhatikan. Namun di kalangan siswa sudah sering
beredar bahwa biologi merupakan mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa
kurang berminat mendalami biologi dan menyebabkan hasil belajar biologi rendah.
Dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan adanya pendirian sebagai kebijakan ideologi
yang mempunyai visi tertentu terhadap pendidikan. Kaitan dengan pendidikan
secara bersamaan muncul permasalahan, permasalahan pendidikan yang perlu
dicarikan pemecahannya.
Berdasarkan hasil
wawancara singkat yang peneliti lakukan dengan salah satu guru bidang studi biologi di SMP Muhammadiyah Banda Aceh bahwa nilai
rata-rata biologi mencapai 6,2. Nilai rata-rata ini masih rendah, karena tidak
mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, dimana ketuntasan klasikal untuk
mata pelajaran biologi di SMP Muhammadiyah Banda Aceh adalah 6,3.
Rendahnya prestasi
belajar siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada mata pelajaran biologi
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya minat dan
motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar. Minat dan
motivasi siswa bisa ditingkatkan dengan pemilihan strategi atau model
pembelajaran yang tepat. Setiap siswa mempunyai cara atau gaya sendiri dalam belajarnya seperti cara
belajar dengan cara melihat (visual),
dengan cara mendengar (auditory) atau
dengan cara bekerja, bergerak atau menyentuh (kinestetik). Untuk mendukung gaya
siswa dalam belajar perlu dikembangkan sistem belajar yang efektif. Dalam
belajar selalu ciptakan mood yang positif, fokuskan mempelajari pelajaran yang
tidak kamu pahami, ulanglah materi pelajaran dan kembangkan materi yang telah
dipelajari selain itu ketahuilah kesulitan-kesulitan belajar dan melengkapi
sumber utama belajar.
Salah satu model
pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa adalah dengan
menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan
salah satu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk berperan
aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, tidak hanya itu siswa juga bisa
saling mengajar dengan siswa lainnya. Selain itu metode kooperatif menanamkan
pada siswa bahwa mereka memiliki peranan yang sama untuk mencapai tujuan akhir
belajar, penguasaan materi pelajaran dan keberhasilan belajar yang tidak
semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tapi merupakan tanggung jawab bersama.
Robert E Slavin
mengemukakan bahwa “kooperatif pada dasarnya merupakan suatu model pembelajaran
di mana siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil serta
kolaboratif anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompok yang
heterogen”[1].
Sagala mengemukakan dampak positif dari belajar kelompok adalah ”dapat
menimbulkan kesadaran akan adanya kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan
kemauan belajar yang sungguh-sungguh”[2].
Robert E. Slavin
juga mengemukakan bahwa kooperatif akan menghasilkan “cooperative behaviours and attitudes that contributed to be success
and/of failure of these group”,[3]
maksudnya adalah bekerjasama menghasilkan sikap dan perilaku yang pada akhirnya
akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan/atau kegagalan kelompok tersebut
dalam mencapai tujuan belajar. menambahkan bahwa aspek lain yang dapat
berkembang dalam pelaksanaan metode cooperative learning adalah sikap saling
tolong menolong dan tolong menolong merupakan salah satu sikap positif dalam
perilaku sosial seseorang.
Pembelajaran
kooperatif dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran biasa,
karena melalui kooperatif siswa lebih leluasa untuk saling memberi dan menerima
materi tanpa rasa segan. Sesuai yang dikatakan Lie bahwa: “Banyak penelitian
menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh
guru dikarenakan mereka memiliki schemata
yang hampir sama dibandingkan dengan schemata guru”.[4]
Hal ini sangat
berbeda bila guru hanya mengandalkan metode ceramah sebagai salah satu upaya
dalam menyampaikan materi pelajaran. Metode ceramah adalah suatu metode yang
digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok
persoalan atau masalah secara lisan. Dengan metode ceramah, guru akan mudah
mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran, disebabkan mereka
melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit
mengontrol sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah
disampaikan.
Materi struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan merupakan materi yang sulit dipahami oleh para siswa, dimana
pada materi tersebut para siswa dituntut untuk menghafal dan mengingat semua
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan, yang jumlahnya sangat banyak, sehingga
membuat para siswa menjadi bingung. Dalam menghadapi situasi seperti ini, diperlukan
suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam forum
diskusi, hal ini akan berdampak pada daya ingat siswa, karena siswa terlibat
langsung dalam diskusi, yang secara langsung partisipasi siswa di dalam diskusi
tersebut akan membekas dalam ingatan para siswa. Salah satu model pembelajaran
kooperatif yang tepat untuk diterapkan dalam materi struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan adalah model pembelajaran kooperatif tipe buzz group.
Model kooperatif
tipe buzz group merupakan bagian dari metode diskusi, dimana dalam metode ini
anggotanya berjumlah 3-4 orang dan waktu yang digunakan juga relatif lebih
singkat. Menurut Slameto “kelompok studi kecil (Buzz Group) adalah pemecahan
kelompok yang lebih besar. Kelompok kecil ini membahas tugas yang diberikan,
dan biasanya melaporkan pada kelompok yang lebih besar.”[5]
Sedangkan Dimyati mengatakan bahwa ”jenis diskusi kelompok kecil yang
beranggota 3-4 orang yang bertamu secara bersama-sama membicarakan suatu topik
yang sebelumnya telah dibicarakan secara klasikal.”[6]
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi ini yang dapat
diadakan di tengah atau di akhir jam pelajaran dengan maksud menajamkan rangka
isi pelajaran, memperjelas isi pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Hasil observasi
awal yang peneliti lakukan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh, khususnya di kelas
VIII pada pembelajaran biologi, terlihat bahwa kegiatan belajar mengajar masih
bersifat terpusat kepada guru, sehingga para siswa menjadi tidak fokus, dan
banyak para siswa yang hanya bermain dan bersenda gurau dengan teman
sebangkunya. Hal ini secara langsung berpengaruh terhadap pemahaman siswa
terhadap materi yang diberikan guru, yang juga berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar tersebut hanya guru saja yang
aktif, berceramah, dan berbicara sendirian di depan kelas, padahal materi
pembelajaran biologi bersifat hafalan yang menuntut siswa untuk mampu mengingat
semua materi yang disampaikan. Namun, jika kegiatan belajar mengajar yang hanya
bersifat terpusat kepada guru, tanpa melibatkan keaktifan para siswa, tujuan
yang hendak dicapai di akhir pembelajaran tidak akan tercapai.
Sehubungan dengan
hal di atas maka pembelajaran diskusi dengan menggunakan tipe buzz group adalah
menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi
siswa bukan hanya guru dan buku bahan ajar tetapi juga sesama siswa. Dengan
demikian maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian eksperimen di
SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dengan judul ”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Buzz Group Pada Konsep
Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah:
1) Apakah
hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe buzz
group pada konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan di SMP Muhammadiyah
Banda Aceh?”
2) Bagaimanakah
respon siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada konsep struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe buzz
group?
C. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari terjadinya salah pentafsiran
bagi para pembaca maka penulis akan memberikan beberapa pengertian istilah
dalam proposal ini:
1.
Prestasi belajar
dalam penelitian ini adalah penilaian hasil kegiatan belajar siswa yang
dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat
mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.
2.
Pembelajaran
kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi dimana setiap
anggota tim bertanggungjawab untuk materi belajar yang ditugaskan kepadanya,
kemudian mengajarkan materi tersebut dalam kelompok kecil dan
mempersentasekannya dalam kelompok besar dengan menyuruh salah satu pelapor
dari setiap kelompok. Teknik pembelajaran ini merupakan salah satu usaha guru
melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.[7]
3.
Konsep struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan merupakan konsep yang diajarkan di kelas VIII semester
I pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar kompetensi konsep
ini berupa memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan, dengan kompetensi dasar mengidentifikasi
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan..
4.
SMP Muhammadiyah
Banda Aceh merupakan salah satu sekolah menengah tingkat pertama swasta yang
berada di kota Banda Aceh, tepatnya terletak di
Jalan Prof. A Majid Ibrahim Lampaseh Kota Banda Aceh. SMP Muhammadiyah Banda
Aceh ini merupakan SMP yang peneliti pilih sebagai tempat untuk melakukan
penelitian, hal ini dikarenakan proses belajar mengajar di SMP Muhammadiyah
Banda Aceh masih bersifat konvensional, sehingga peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian eksperimen di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar