Sabtu, 05 Februari 2011

KTI KEBIDANAN : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI DI PUSKESMAS xxxxxxxxxxxx TAHUN xxxx


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
            Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) menjadi “Keluarga Berkualitas Tahun 2015”. Dan misinya adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sejak peranannya dalam kandungan sampai dengan usia lanjut (Saifuddin, 2003). Program baru dari keluarga berencana nasional adalah untuk mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera dan keluarga berencana nasional pada paradigma baru adalah menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi sebagai integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga adalah salah satu dan lima matra kependudukan yang sangat mempengaruhi terwujudnya penduduk yang berkualitas (Hanifa, 2007).
            Sudah lebih dari tiga dasa warsa, program KB telah berjalan dan dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari menurunnya angka fertilitas yang semula 5,6 per wanita pada tahun 1980 menjadi 2,6 anak wanita usia subur. Hal ini menunjukkan bahwa program KB telah diterima dan membudaya di masyarakat. Pencapaian program KB dari waktu ke waktu terus meningkat, pada tahun 1997 yaitu 56,4%  dan sangat meningkat menjadi 60,3% pada tahun 2003. Dari pencapaian tersebut, masyarakat lebih memilih alat kontrasepsi yang sifatnya praktis dan efektifitas tinggi seperti pil dan suntik (BKKBN, 2007).
            Pemerintah Indonesia mulai menerima gagasan KB (Keluarga berencana) sejak tahun 1970 dengan membentuk badan koordinator KB Nasional yang pada dasarnya langsung di bawah presiden, sehingga lebih mantap dalam pelaksanaannya, perkembangan menunjukkan bahwa Indonesia dianggap telah berhasil melaksanakan gerakan Nasionalnya dengan mengikutsertakan semua komponen bangsa (Manuaba, 2008). Yang paling meningkat pada penggunaan alat kontrasepsi adalah injeksi atau suntik (Ilyas, 2007).
             Dari data Dinkes Provinsi NAD Tahun 2009 disebutkan bahwa  PUS ada 623.148 pasangan, yang mengikuti program KB sebagai peserta KB baru adalah 74.982 pasangan (12.03%) dengan pemakaian IUD 956 jiwa (1.20%). Metode Operasi Pria (MOP) atau Metode Operasi Wanita (MOW) 303 jiwa (0.38%), Implant 1.275 jiwa (1.59%), Suntik 42.295 jiwa (52.88%), pil 32.036 jiwa (40.05%), kondom 2.996 jiwa (3.75%), Obat vagina 29 jiwa (0.04%),
dan lain-lain 4,52 jiwa (0.12%). Sedangkan yang mengikuti program KB sebagai peserta KB aktif adalah sebesar 328.447 pasangan (52.71%) dengan pemakaian IUD 5.632 jiwa (1.51%), Metode Operasi Pria (MOP)/Metode Operasi Wanita (MOW) 3.950 jiwa (1.06%), Implant 5.726 jiwa (1.54%), Suntik 177.510 jiwa (47.73%), Pil 171.635 jiwa (46.15%), Kondom 9.126 jiwa (2.45%), Obat vagina 39 jiwa (0.01%) dan lain-lain 86 jiwa (0%) (Dinkes NAD 2009).
                 Data dari Dinkes Kabupaten Aceh Besar tahun 2009 disebutkan bahwa PUS ada 28.860 pasangan, yang mengikuti program KB sebagai peserta KB baru adalah 6.521 pasangan (22.60%), dengan pemakaian IUD 21 jiwa (0.32%), Metode Operasi Wanita (MOW) 15 jiwa (0.23%), implant 32 jiwa (0.49%), suntik 2.943 jiwa (44.99%), PIL 3.399 jiwa (52.12%), kondom 120 jiwa (1.84%). Sedangkan yang mengikuti program KB sebagai peserta KB aktif adalah 14.858 pasangan (51.48%) dengan pemakaian IUD 397 jiwa (2.67%), Metode Operasi Wanita (MOW) 978 jiwa (6.58%), implant 726 jiwa (4.89%), suntik 7.151 jiwa (48.13%), PIL 4.642 jiwa (31.24%), kondom 964 jiwa (6.49%) (Dinkes Kabupaten/Kota 2009).
            Data yang diperoleh dari Puskesmas Darul Imarah tahun 2009 jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) seluruhnya 838 orang, akseptor KB lama seluruhnya 659 orang, yang terbagi dalam akseptor yang menggunakan pil 393 orang, suntik 320 orang, yang IUD 1 orang, implant 1 orang dan kondom 44 orang. Sedangkan akseptor KB baru seluruhnya 179 orang, yang terbagi dalam akseptor yang menggunakan pil 58 orang, akseptor yang menggunakan suntik 88 orang, yang menggunakan IUD 2 Orang, Implant 1 orang dan kondom sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar antara akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implant. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar antara akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implant (Puskesmas Darul Imarah, 2009).
            Faktor yang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan menerima informasi dalam hal pemakaian kontrasepsi adalah pendidikan, seseorang yang berpendidikan rendah dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan jenis kontrasepsi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelangsungan pemakaiannya (Ilyas, 2007).
            Berdasarkan gambaran di atas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu dalam Memilih Alat Kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxxxx Tahun xxxx.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang di atas dan besarnya manfaat alat kontrasepsi, maka penulis tertarik untuk meneliti “Faktor-faktor apa saja yang mendorong ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas Darul Imarah Aceh Besar tahun 2010”.

C.     Tujuan Penelitian
1.   Tujuan Umum
            Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong ibu dalam memilih kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.
b.      Untuk mengetahui pengaruh pendidikan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxxx tahun xxxx.
c.       Untuk mengetahui pengaruh pendapatan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.

D.    Manfaat Penelitian
      Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penelitian terutama tentang program KB terutama kontrasepsi pil, suntik dan IUD.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Merupakan bahan masukkan dalam mengembangkan ilmu program KB dan sebagai referensi bagi penelitian di masa yang akan datang.
3.      Bagi Instansi Pelayanan
Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan pelayanan program KB dan dapat memberi pelayanan bagi masyarakat.
4.      Bagi Ibu-Ibu Akseptor
Dapat menambah pengetahuan ibu-ibu akseptor sehingga ibu dapat memilih alat kontrasepsi yang tepat sesuai dengan keadaan kesehatan ibu dan sosial ekonomi.

E.   Keaslian Penelitian
            Penelitian sejenis ini sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Ruslaini (2002) dengan judul penelitian “Faktor yang Mendorong Ibu dalam Memilih Alat Kontrasepsi Pil dan Suntik di Puskesmas Kuta Alam Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh tahun 2002”.
            Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Ruslaini (2002) adalah pada hasil ukur variabel dependent yaitu pil dan suntik saja. Selanjutnya pada variabel independent, penelitian Ruslaini (2002) meninjau dari pendidikan, pengetahuan dan dukungan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar