Senin, 25 Mei 2015

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DISMENORE DI GAMPONG RUKOH SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
           Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial cultural. Program kesehatan reproduksi remaja merupakan upaya untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan perilaku kehidupan reproduksi sehat dan bertanggungjawab. Kesehatan reproduksi ini tidak saja bebas dari penyakit dan kecacatan, namun juga sehat mental dan sosial dari alat, sistem, fungsi serta proses reproduksi. Masalah kesehatan reproduksi remaja menjadi kepedulian Nasional karena disadari bahwa remaja dalam hidupnya menghadapi berbagai masalah khusus yang membutuhkan perhatian yang khusus pula. Kebutuhan terhadap kesehatan reproduksi remaja sebenarnya merupakan permasalahan dunia, akan tetapi di negara kita hal ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai (Pinem, 2009).
            Permasalahan kesehatan reproduksi remaja saat ini masih menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian. Kesehatan reproduksi remaja tidak hanya masalah seksual saja tetapi juga menyangkut segala aspek tentang reproduksinya, terutama untuk remaja putri yang nantinya menjadi seorang wanita yang bertanggung jawab terhadap keturunannya. Pemahaman tentang menstruasi sangat diperlukan untuk dapat mendorong remaja yang mengalami gangguan menstruasi agar mengetahui dan mengambil sikap yang terbaik mengenai permasalahan reproduksi yang mereka alami berupa kram, nyeri dan ketidaknyamanan yang dihubungkan dengan menstruasi yang disebut dismenorea (Widyaningsih, 2007).
            Adapun jenis-jenis dismenorea yaitu berdasarkan nyeri dan ada tidaknya penyebabnya. Dismenorea berdasarkan nyerinya yaitu dismenorea spasmodik dimana nyeri yang dirasakan dibagian bawah perut berawal sebelum masa haid atau segera setelah masa haid mulai ditandai dengan mual muntah dan pingsan, dimenorea kongestif yaitu nyeri haid yang dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya haid ditandai dengan sakit pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit punggung , mudah tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha dan lengan atas. Sedangkan dismenorea berdasarkan ada tidak penyebabnya yaitu dismenorea primer yaitu nyeri haid yang timbul tanpa ada sebab yang dapat diketahui, dan dismenorea sekunder yaitu terjadi karena adanya kelainan pada organ genetalia dalam rongga pelvis (Liewellyn, 2005).
            Masalah menstruasi sering membuat remaja cemas, khawatir dan kurang percaya diri. Remaja putri pada umumnya belajar tentang menstruasi dari ibunya, tapi sayang tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka. Menghadapi hal ini menimbulkan kecemasan pada anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Mereka juga mengembangkan sikap negatif tentang menstruasi. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai penyakit. Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu. Pandangan negatif tentang menstruasi berlanjut sampai menjelang dewasa (Liewellyn, 2005).
            Panjang siklus menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang khas ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya tidak terlalu sama. Rata-rata panjang siklus menstruasi pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari. Lama menstruasi biasanya antara 3-8 hari, pada setiap wanita biasanya lama mentruasi (Widyaningsih, 2007).
            Angka kejadian nyeri haid didunia sangat besar. Rata-rata dari 50% disetiap Negara mengalaminya. Di Amerika Prevalensi nyeri haid berkisar 45-95%, di swedia angka kejadian sekitar 72%, sementara di Indonesia angka kejadiannya 55% remaja yang mengalami dismenorea. Adapun faktor penyebab dismenorea yaitu, faktor kejiwaan, fakor konstitusi (Widyaningsih, 2007).
            Remaja putri yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses menstruasi, mudah sekali timbul dismenorea. Menghadapi menstruasi tersebut para remaja diharapkan mengetahaui tentang menstruasi yang normal. Tidak sedikit para remaja yang belum mengetahui tentang menstruasi, sehingga akan berpengaruh terhadap remaja dalam menjalankan masa kedewasaannya. Apalagi pokok bahasan tentang menstruasi tidak di bahas, meskipun tentang kesehatan reproduksi sudah di bahas namun belum mengupas secara mendalam (Sarwono, 2008).
            Berdasarkan hasil observasi awal yang peneliti lakukan terhadap remaja putri di Gampong Rukoh Banda Aceh, terdapat beberapa orang remaja putri yang mengalami sakit atau nyeri perut saat menstruasi. Menghadapi menstruasi tersebut mereka merasa resah, cemas, was-was dan terganggu. Sindroma pra-menstruasi yang sering dialami remaja putri yang rata-rata berstatus mahasiswi tersebut ialah mudah marah (mudah tersinggung), pusing, mual dan payudara terasa sakit dalam menghadapi menstruasi tersebut mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan untuk berbicara kepada orang tua mereka malu, serta mereka mengatakan belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang menstruasi.
            Namun tidak semua remaja putri di Gampong Rukoh yang mengalami stress dan depresi pada saat menstruasi, ada beberapa orang yang menghadapi menstruasi dengan suka cita, dengan kata lain, tidak ada rasa cemas dan was-was pada dirinya, hal ini tentu saja remaja putri tersebut sudah memahami apa itu dismenore pada saat menstruasi, sehingga dengan didukung pengetahuan dan pemahaman memadai, remaja putri ini juga cenderung memiliki sikap yang positif dalam menghadapi dismenore pada saat menstruasi.
            Berdasarkan uraian di atas pentingnya pengetahuan remaja putri tentang menstruasi sejak dini. Mengingat masih banyak remaja putri yang belum mengerti tentang menstruasi, maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dismenorea. Ketertarikan ini peneliti kemas dalam dalam bentuk penulisan proposal penelitian yang berjudul ”Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh Tahun 2014”.

B.  Perumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014?

C.  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014.
2.      Untuk mengetahui gambaran sikap remaja putri tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Bagi Remaja Putri Gampong Rukoh
Sebagai bahan informasi dan bahan bacaan dalam usaha meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam penanganan menghadapi dismenorea saat menstruasi.
      2.   Bagi Institusi Pendidikan
   Sebagai penambah bahan rujukan, referensi, serta bahan informasi dan bahan bacaan, baik untuk para rekan mahasiswa, maupun para praktisi akademisi lainnya.
3.   Bagi Peneliti
Sebagai pengaplikasian ilmu kesehatan yang diperoleh selama perkuliahan di Akademi Keperawatan Cut Nyak Dhin Banda Aceh dan berguna untuk meningkatkan wawasan penulis tentang gambaran serta deskripsi pengetahuan dan sikap remaja putri di Gampong Rukoh Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh tahun 2014.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar