BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kesehatan
reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan
proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat disini tidak semata-mata
berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental
serta sosial cultural. Program kesehatan reproduksi remaja merupakan upaya
untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan perilaku
kehidupan reproduksi sehat dan bertanggungjawab. Kesehatan reproduksi ini tidak saja bebas dari
penyakit dan kecacatan, namun juga sehat mental dan sosial dari alat, sistem,
fungsi serta proses reproduksi. Masalah kesehatan reproduksi remaja menjadi
kepedulian Nasional karena disadari bahwa remaja dalam hidupnya menghadapi
berbagai masalah khusus yang membutuhkan perhatian yang khusus pula. Kebutuhan
terhadap kesehatan reproduksi remaja sebenarnya merupakan permasalahan dunia,
akan tetapi di negara kita hal ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai
(Pinem, 2009).
Permasalahan kesehatan reproduksi remaja saat ini masih menjadi masalah
yang perlu mendapat perhatian. Kesehatan reproduksi remaja tidak hanya masalah
seksual saja tetapi juga menyangkut segala aspek tentang reproduksinya,
terutama untuk remaja putri yang nantinya menjadi seorang wanita yang
bertanggung jawab terhadap keturunannya. Pemahaman tentang menstruasi sangat
diperlukan untuk dapat mendorong remaja yang mengalami gangguan menstruasi agar
mengetahui dan mengambil sikap yang terbaik mengenai permasalahan reproduksi
yang mereka alami berupa kram, nyeri dan ketidaknyamanan yang dihubungkan
dengan menstruasi yang disebut dismenorea (Widyaningsih, 2007).
Adapun
jenis-jenis dismenorea yaitu berdasarkan nyeri dan ada tidaknya penyebabnya.
Dismenorea berdasarkan nyerinya yaitu dismenorea spasmodik dimana nyeri yang
dirasakan dibagian bawah perut berawal sebelum masa haid atau segera setelah
masa haid mulai ditandai dengan mual muntah dan pingsan, dimenorea kongestif
yaitu nyeri haid yang dirasakan sejak beberapa hari sebelum datangnya haid
ditandai dengan sakit pada buah dada, perut kembung, sakit kepala, sakit
punggung , mudah tersinggung, gangguan tidur dan muncul memar di paha dan
lengan atas. Sedangkan dismenorea berdasarkan ada tidak penyebabnya yaitu
dismenorea primer yaitu nyeri haid yang timbul tanpa ada sebab yang dapat
diketahui, dan dismenorea sekunder yaitu terjadi karena adanya kelainan pada
organ genetalia dalam rongga pelvis (Liewellyn, 2005).
Masalah
menstruasi sering membuat remaja cemas, khawatir dan kurang percaya diri. Remaja putri pada umumnya belajar tentang menstruasi dari ibunya,
tapi sayang tidak semua ibu memberikan informasi yang memadai kepada putrinya
bahkan sebagian enggan membicarakan secara terbuka. Menghadapi hal ini menimbulkan
kecemasan pada anak, bahkan sering tumbuh keyakinan bahwa menstruasi itu
sesuatu yang tidak menyenangkan atau serius. Mereka juga mengembangkan sikap negatif
tentang menstruasi. Ia mungkin merasa malu dan melihatnya sebagai penyakit.
Khususnya jika ketika mengalaminya ia merasa letih atau terganggu. Pandangan
negatif tentang menstruasi berlanjut sampai menjelang dewasa (Liewellyn, 2005).
Panjang
siklus menstruasi yang normal atau dianggap sebagai siklus menstruasi yang khas
ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita
tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya tidak terlalu
sama. Rata-rata panjang siklus menstruasi pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1
hari. Lama menstruasi biasanya antara 3-8 hari, pada setiap wanita biasanya
lama mentruasi (Widyaningsih, 2007).
Angka
kejadian nyeri haid didunia sangat besar. Rata-rata dari 50% disetiap Negara mengalaminya. Di Amerika Prevalensi nyeri haid berkisar
45-95%, di swedia angka kejadian sekitar 72%, sementara di Indonesia angka
kejadiannya 55% remaja yang mengalami dismenorea. Adapun faktor penyebab
dismenorea yaitu, faktor kejiwaan, fakor konstitusi (Widyaningsih, 2007).
Remaja
putri yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat
penerangan yang baik tentang proses menstruasi, mudah sekali timbul dismenorea.
Menghadapi menstruasi tersebut para remaja diharapkan mengetahaui tentang
menstruasi yang normal. Tidak sedikit para remaja yang belum mengetahui tentang
menstruasi, sehingga akan berpengaruh terhadap remaja dalam menjalankan masa
kedewasaannya. Apalagi pokok bahasan tentang menstruasi tidak di bahas,
meskipun tentang kesehatan reproduksi sudah di bahas namun belum mengupas
secara mendalam (Sarwono, 2008).
Berdasarkan
hasil observasi awal yang peneliti lakukan terhadap remaja putri di Gampong
Rukoh Banda Aceh, terdapat beberapa orang remaja putri yang mengalami sakit
atau nyeri perut saat menstruasi. Menghadapi menstruasi tersebut mereka merasa
resah, cemas, was-was dan terganggu. Sindroma pra-menstruasi yang sering
dialami remaja putri yang rata-rata berstatus mahasiswi tersebut ialah mudah
marah (mudah tersinggung), pusing, mual dan payudara terasa sakit dalam
menghadapi menstruasi tersebut mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan,
bahkan untuk berbicara kepada orang tua mereka malu, serta mereka mengatakan
belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang menstruasi.
Namun
tidak semua remaja putri di Gampong Rukoh yang mengalami stress dan depresi
pada saat menstruasi, ada beberapa orang yang menghadapi menstruasi dengan suka
cita, dengan kata lain, tidak ada rasa cemas dan was-was pada dirinya, hal ini
tentu saja remaja putri tersebut sudah memahami apa itu dismenore pada saat
menstruasi, sehingga dengan didukung pengetahuan dan pemahaman memadai, remaja
putri ini juga cenderung memiliki sikap yang positif dalam menghadapi dismenore
pada saat menstruasi.
Berdasarkan
uraian di atas pentingnya pengetahuan remaja putri tentang menstruasi sejak dini.
Mengingat masih banyak remaja putri yang belum mengerti tentang menstruasi,
maka penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dismenorea. Ketertarikan ini
peneliti kemas dalam dalam bentuk penulisan proposal penelitian yang berjudul
”Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Dismenore di Gampong Rukoh
Banda Aceh Tahun 2014”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah: Bagaimanakah gambaran pengetahuan dan sikap remaja putri
tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014?
C. Tujuan
Penelitian
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan
remaja putri tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014.
2. Untuk mengetahui gambaran sikap remaja
putri tentang dismenore di Gampong Rukoh Banda Aceh tahun 2014.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Remaja Putri Gampong Rukoh
Sebagai bahan informasi dan bahan bacaan dalam usaha meningkatkan
pengetahuan dan sikap dalam penanganan menghadapi dismenorea saat menstruasi.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai
penambah bahan rujukan, referensi, serta bahan informasi dan bahan bacaan, baik
untuk para rekan mahasiswa, maupun para praktisi akademisi lainnya.
3. Bagi Peneliti
Sebagai pengaplikasian ilmu kesehatan yang
diperoleh selama perkuliahan di Akademi Keperawatan Cut Nyak Dhin Banda Aceh dan
berguna untuk meningkatkan wawasan penulis tentang gambaran serta deskripsi pengetahuan
dan sikap remaja putri di Gampong Rukoh Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh
tahun 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar