Senin, 25 Mei 2015

GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG MEROKOK DI DESA JEULINGKE KECAMATAN SYIAH KUALA BANDA ACEH TAHUN 2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
           Rokok merupakan produk yang berbahaya dan juga menimbulkan ketergantungan. Di dalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya yang 69 diantaranya merupakan zat karsinogenik, dapat menimbulkan kanker. Zat-zat berbahaya yang terkandung di dalam rokok antara lain : nikotin, tar, karbon monoksida, sianida, arsen, formalin, nitrosamine, dll. (artilkel kesehatan  Wikipedia, 2012)
           Efek rokok terhadap kesehatan sangat membahayakan, karena rokok mengandung berbagai bahan kimia berbahaya. Maka, dengan merokok sama dengan memasukkan bahan-bahan berbahaya ke dalam tubuh. Penyakit-penyakit yang diketahui dapat disebabkan oleh rokok antara lain : kanker tenggorokan, kanker paru-paru, kanker lambung, penyakit jantung koroner, stroke, pneumonia, gangguan sistem reproduksi, emfisema, asma, angina, impotensi, osteoporosis, kanker rahim dan keguguran, penyakit berger, tukak lambung dan lain sebagainya (artikel DetikHealth, 2011).
           Meskipun rokok banyak bahayanya dan menimbulkan banyak penyakit, masih banyak juga orang yang merokok. Hal ini disebabkan karena di dalam rokok terdapat kandungan nikotin yang akan menimbulkan kecanduan bagi para penghisapnya sehingga apabila mereka tidak merokok, mereka akan merasakan gangguan seperti gelisah, berkeringat dingin, sakit perut dan lain sebagainya. Kemudian mereka menghisap rokok kembali dan nikotin telah menyentuh otak lagi, barulah merasa tenang dan dapat berkonsentrasi (Pramudiarja, 2011).
           Oleh sebab itu banyak perokok yang akan terus menjadi perokok seumur hidupnya, walaupun mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk berhenti, mereka sulit menghentikan kecanduan mereka terhadap rokok. Salah satu hal lain yang turut menjadi keprihatinan adalah jumlah perokok yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal ini berarti bahwa terdapat pertambahan perokok baru setiap saat yang kemungkinan besar akan terus menjadi perokok aktif seumur hidupnya. Perokok baru tersebut sebagian besar adalah anak-anak & remaja (Pramudiarja, 2011).
           The Global Youth Tobacco Survey (2006) mengemukakan data bahwa tembakau membunuh separuh dari masa hidup perokok, dan separuh perokok mati pada usia 35-69 tahun. Data endemi dunia menunjukkan, tembakau membunuh lebih dari 5 juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut, diperkirakan akan terjadi 10 juta kematian pada tahun 2020. Sekitar 70 persen terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Survei tersebut juga mengungkap bahwa 37,3 persen pelajar merupakan perokok aktif. Parahnya, 3 dari 10 pelajar telah merokok sejak berusia di bawah 10 tahun. Sementara seseorang yang menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru-paru sebesar 20-30 persen dan orang tersebut bisa terkena penyakit jantung. 90 persen orang yang kecanduan narkoba berawal dari kebiasaan merokok. (Artikel Tribun Kalteng, 2012).
           Laporan WHO (2008) dalam Ainal (2011) menyebutkan, saat ini perokok di dunia mencapai 1,3 milyar orang. Diperkirakan, 900 juta orang (84%) dari semua perokok hidup di negara-negara berkembang dan negara-negara ekonomi nomor 3 di dunia setelah China dan India. Jumlah perokok di Indonesia sebanyak 65 juta orang atau 28 persen dari jumlah penduduk. Artinya, dari setiap 4 orang terdapat seorang perokok. Berikut adalah negara-negara dengan perokok terbesar di dunia dan yang menduduki peringkat tertinggi adalah Cina dengan jumlah perokok sebanyak 390 juta jiwa, kemudian di susul oleh Negara India dengan jumlah perokok sebanyak 144 juta jiwa, selanjut nya di susul oleh Negara Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Brazil, Banglades, Jerman, dan  Turki.
           Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2004 antara lain: rokok menyebabkan 9,8 persen kematian karena penyakit paru kronik, emfisima dan penyebab dari sekitar 5 persen stroke. Wanita yang merokok mungkin mengalami penurunan atau penundaan kemampuan hamil, pada pria meningkatkan risiko impotensi sebesar 50 persen. Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilan ataupun terkena asap rokok di rumah atau dilingkungannya beresiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah. Seorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20-30 persen dan lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal dengan perokok beresiko mengalami pertumbuhan paru yang lambat, mudah terkena infeksi saluran pernafasan, infeksi telinga dan asma (Djmanshiro, 2008).
           Data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2001 dan 2004 didapatkan kenaikan pada jumlah perokok baik dewasa maupun anak-anak di Indonesia. Dimana kenaikan berarti terjadi pada perokok perempuan baik dewasa ataupun remaja serta anak-anak. Pada tahun 2001 jumlah perokok perempuan dewasa di Indonesia adalah 1,3 persen yang kemudian pada tahun 2004 angka tersebut naik menjadi 4,5 persen naik 3,5 kali kemudian untuk perempuan remaja usia 15-19 tahun pada tahun 2001 sebanyak 0,2 persen naik menjadi 1,9 persen  pada tahun 2004 naik 9,5 kali. Untuk perokok anak-anak usia 5-9 tahun pada tahun 2001 sebesar 0,4 persen naik menjadi 1,8 persen pada tahun 2004. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 juga menemukan bahwa saat ini jumlah perokok remaja berusia 15-19 tahun ada sebanyak 4,2 juta jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan 2 kali lipat dari tahun 1995 (wahyudi, 2012).
           Umur orang mulai merokok dari tahun ke tahun semakin muda. Jumlah perokok muda yang merokok juga semakin banyak. Di antara 10 orang yang kecanduan merokok, hanya 2 yang berhasil berhenti merokok. (Abdillah Ahsan, 2010). Pada anak-anak, dampak buruk asap rokok dapat memicu berbagai penyakit kronis, faktanya lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan perokok. Data tersebut terungkap dalam The Global Youth Tobacco Survey yang dilakukan di Indonesia pada tahun 2006. kesimpulannya berarti 64,2 persen anak indonesia terpapar asap rokok selama di rumah (Artikel Berita viva news, 2011).
           Data lain yang terungkap adalah 57 persen rumah tangga di Indonesia, memiliki sedikitnnya 1 orang perokok. Dari jumlah tersebut, hampir semuanya kira-kira 91,8 persen merokok di rumah. Kondisi tersebut menjadikan anak-anak sebagai perokok pasif atau second hand smoker. Dampaknya tentu saja tidak lebih baik dibandingkan pada perokok aktif. Anak-anak yang terpapar asap rokok dapat mengalami pertumbuhan paru-paru yang lebih lambat. Akibatnya menjadi rentan terkena bronkhitis, infeksi saluran napas dan telinga serta asma. Padahal kesehatan yang buruk di usia dini akan menyebabkan kesehatan yang buruk pula saat tumbuh dewasa. Hal ini diungkap oleh Menteri Kesehatan RI Endang Sedyaningsih dalam jumpa pers menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Kemenkes ( Artikel Berita vivanews, 2011).
           Masalah kesehatan jangka pendek yang di timbulkan oleh rokok termasuk diantaranya penyakit yang dapat timbul akibat rokok adalah gangguan pernafasan, kecanduan nikotin serta meningkatnya resiko untuk menggunakan bahan berbahaya lain termasuk obat terlarang. Sedangkan masalah jangka panjangnya adalah kenyataan bahwa sekali orang telah menjadi perokok aktif maka biasanya akan terus menjadi perokok aktif sepanjang hidupnya (Pramudiarja, 2011).
           Di dalam sebuah penelitian yang di lakukan oleh para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat University of Buffalo menemukan bahwa orang yang berhenti merokok selama kurang dari 6 bulan mengkonsumsi lebih banyak buah dan sayuran daripada yang masih merokok, tetapi yang belum di ketahui adalah apakah orang yang berhenti merokok lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran atau orang yang makan banyak buah dan sayuran lebih mungkin untuk berhenti merokok. (Gary A. Giovino, 2012).
           Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nicotine and Tobacco Research merupakan yang kali pertama mengamati hubungan antara konsumsi buah dan sayuran dengan upaya berhenti merokok. Para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat University of Buffalo menyurvei 1.000 orang perokok berusia 25 tahun ke atas lewat telepon secara acak. Peneliti memantau responden 14 bulan kemudian dan menanyakan apakah para responden sudah berhenti merokok beberapa bulan sebelumnya. Penelitian ini menemukan bahwa perokok yang banyak mengkonsumsi buah dan sayuran 3 kali lebih mungkin berhenti merokok selama minimal 30 hari dibandingkan perokok yang sedikit mengkonsumsi buah dan sayuran. Hubungan ini tetap ada bahkan setelah memperhitungkan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, etnis, pendidikan, pendapatan rumah tangga dan orientasi kesehatan. Peneliti juga menemukan bahwa perokok yang banyak mengkonsumsi buah dan sayur merokok lebih sedikit setiap harinya dan lebih rendah tingkat ketergantungan nikotinnya (Gary A. Giovino, 2012).
           Dalam sebuah  tesis yang dibuat tahun 2009, menjelaskan bekam bisa menstimulasi produksi eritrosit baru dan mengganti eritrosit lama yang dikikis karena terpapar oksidan. Menurutnya, jenis penelitian yang pernah dilakukan itu bersifat quasy experimental. Pada penelitiannya, pembagian kelompok subjek penelitian dibagi menjadi dua. Pertama Kelompok K-0 sebagai kontrol, caranya dilakukan dua kali pengambilan darah pada vena mediana cubiti sebanyak 4 mililiter 4 cc, yaitu pada hari pertama dan hari ke-15. Selanjutnya kelompok K-1 dilakukan sebagai kelompok perlakuan 15 menit sebelum bekam dan 15 hari setelah bekam diambil darah melalui vena mediana cubiti sebanyak 4 mililiter. Kesimpulan dari penelitian/tesis ini mengungkapkan nilai deformabilitas eritrosit sebelum perlakuan adalah terendah 85,39 persen dan tertinggi 99,05 persen serta rerata 93,27 persen. Dan nilai deformabilitas eritrosit sesudah perlakuan adalah terendah 91,05 persen, tertinggi 99,56 persen serta rerata 96,72 persen (Wahyudi, 2012).
           Manfaat jangka panjang dari menghentikan kebiasaan merokok sangatlah fantastis. Menurut Asosiasi Jantung Amerika, mereka yang tidak merokok rata-rata hidup 14 tahun lebih lama dibandingkan para perokok. Berhenti lebih awal akan memperpanjang rentang hidup dan dapat menikmati hidup dengan sistem kardiovaskular yang berfungsi dengan baik ketika beraktivitas dan hidup menjadi lebih bergairah (artikel kesehatan Republika, 2011).
           Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Depkes R.I pada 2007, masyarakat Aceh tergolong sebagai perokok berat dan paling jorok. Dalam Riskesdas itu Aceh berada diurutan teratas jumlah perokok terbanyak. Bahkan anak Aceh yang berusia 10 tahun ke atas, sebanyak 29,7% tercatat sebagai perokok aktif, berdasarkan data tersebut, Perokok di Aceh rata-rata menghisap 19 batang rokok perhari. Karena kurangnya kesadaran mereka merokok di rumah, 82,7% anggota keluarga terkena imbas perokok pasif, termasuk balita (Depkes RI Riskesdas, 2007).
           Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mulai  tahun 2012 merlakukan kawasan tanpa rokok (KTR). semua aturan ini akan diberlakukan pada 27 Desember 2011 dan penerapannya mulai berjalan tahun 2012 mendatang. Dasar dibuat aturannya tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan. (profil Dinkes Kota banda Aceh, 2011).
           Akan ada tujuh tempat yang menjadi kawasan tanpa rokok itu, meliputi tempat pelayanan kesehatan misalnya di rumah sakit, puskesmas, polindes termasuk juga klinik atau praktek kesehatan lainnya. Kemudian tempat pendidikan, yaitu di sekolah-sekolah dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Selanjutnya di tempat ibadah, seperti masjid-masjid, mushalla, TPA dan tempat ibadah non muslim juga tidak dibenarkan merokok. Ditempat-tempat angkutan umum juga masuk dalam kawasan tanpa rokok begitu juga dalam mobil angkutan umum tidak dibenarkan merokok. Tempat bermain anak-anak juga masuk dalam kawasan tanpa rokok. Kemudian tempat kerja atau di kantor-kantor tidak dibenarkan merokok khusus untuk Kota Banda Aceh. Terakhir adalah tempat-tempat umum seperti di pasar-pasar dan di toilet umum. Tahap awal akan diberlakukan Peraturan Walikota dan disebutkan bagaimana sanksinya bagi yang melanggar. Hingga saat ini belum diberikannya  sanksi yang tegas bagi yang melanggar  tapi hanya diberikan teguran saja. (Profil Dinkes kota Banda Aceh, 2011).
           Survey awal yang peneliti lakukan di Desa Jeulingke berawal dari kantor kepala Desa, dan diketahui bahwa jumlah keseluruhan masyarakat desa Jeulingke adalah 5.124 jiwa, dan 2.722 diantaranya adalah laki-laki. Dari jumlah laki-laki  keseluruhan tersebut, terdapat 985 orang laki-laki yang berusia dari 18 sampai dengan 59 tahun yang tersebar di 6 dusun. Salah satu dusun tersebut adalah dusun Rajawali, di dusun ini terdapat 144 orang laki-laki dewasa yang berusia 18 sampai 59 tahun. Peneliti mewawancarai beberapa orang masyarakat tersebut, dan dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa mereka semua merupakan perokok aktif, yang dalam satu harinya minimal menghabiskan 1 bungkus rokok. Beberapa orang di antara mereka mengatakan sudah merokok sejak masih SMP, dan beberapa orang lainnya mengatakan sejak SMA.
           Begitu juga halnya dengan dusun lain, yaitu dusun Rawa Sakti, yang mana terdapat 156 orang laki-laki yang berusia 18 sampai 59 tahun. Hal yang sama peneliti dapat dari dusun Rajawali, bahwa sebagian besar laki-laki di dusun Rawasakti juga perokok aktif, dan rata-rata dalam satu hari mereka juga menghabiskan minimal 1 bungkus rokok.
            Dari hasil wawancara tersebut diketahui, bahwa pengetahuan para masyarakat tersebut tentang rokok sangat beragam, ada yang tidak tahu sama sekali bahaya rokok, seperti beberapa orang yang berprofesi kuli bangunan (tukang), dan ada juga yang tahu dan paham akan bahaya dari rokok tersebut, bahkan ada juga beberapa orang yang berstatus masih mahasiswa yang tahu dan paham bahwa ada 4000 bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam rokok, namun mereka tetap merokok seperti biasanya.
           Secara umum mereka mengatakan merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, namun mereka kurang mengetahui bahwa nikotin di dalamnya mengakibatkan ketagihan, dan dampak ketagihan nikotin tersebut kurang mereka sadari. Mereka menganggap merokok itu sebagai hal yang biasa dan normal, tidak ada yang salah dengan merokok selagi masih sanggup membeli rokok. Dan mereka percaya, bahwa penyakit-penyakit yang disebabkan rokok tidak muncul sekarang, namun belakangan saat sudah tua, dan menurut mereka semua orang yang sudah tua memang mudah terserang penyakit, bukan karena rokok, tapi faktor usia.
                 Pengetahuan dan pemahaman yang salah dari masyarakat tersebut tentu saja tidak didasari dengan pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang rokok dan bahaya merokok. Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007) merupakan hasil tahu setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan perabaan. Dalam hal ini tentu saja para masyarakat yang merokok tersebut tidak pernah melihat atau mendengar informasi-informasi tentang bahaya rokok. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah informasi, yang mana secara umum seseorang yang lebih sering terpapar dengan informasi, semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tersebut dan sebaliknya semakin jarang seseorang terpapar dengan informasi, semakin rendah pengetahuan seseorang tersebut. Namun hal ini juga tidak berdiri sendiri, karena faktor pendidikan seseorang juga mempengaruhi mudah atau tidaknya seseorang itu dalam menyerap informasi yang diterimanya.
           Fenomena di atas juga dikemukakan Pramudiarja (2011), yang mengatakan bahwa secara umum para perokok tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah dan juga golongan masyarakat awam namun yang berasal dari kalangan atas dan termasuk ke dalam berbagai profesi seperti pejabat, wakil rakyat, pegawai negeri sipil, bahkan petugas kesehatan sendiri yang telah mengetahui dampak dari kebiasaan merokok namun mereka tetap saja merokok. Sehingga banyak mengalami kendala dan sulit dalam memberantas kebiasaan merokok tersebut, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan tidak begitu bermakna dalam mempengaruhi kebiasaan merokok masyarakat di Indonesia.
                 Oleh karena itu berdasarkan data dan fenomena yang telah di uraikan di dalam latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan judul “Gambaran Pengetahuan Masyarakat Dewasa Tentang Merokok Di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh 2012”.

B.    Perumusan Masalah
           Berdasarkan dengan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana pengetahuan masyarakat tentang merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah kuala Banda Aceh 2012?”

C.   Tujuan Penelitian
1.     Tujuan Umum
           Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.

2.     Tujuan Khusus
           Sedangkan yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis perokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
b.     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang zat berbahaya yang terkandung dalam rokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
c.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan  merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
d.     Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang manfaat berhenti merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
e.      Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang cara berhenti merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012

D.   Manfaat Penelitian
      Manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian adalah
1.     Bagi Peneliti
Sebagai salah satu sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan di prodi keperawatan dan merupakan wawasan untuk menambahkan ilmu serta pengetahuan yang berkaitan dengan masalah merokok dan dampak yang di timbulkannya.
2.     Bagi Masyarakat
Sebagai salah satu sarana wawasan yang dapat menambah ilmu pengetahuan, bahwa merokok tidak baik bagi kesehatan dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan hingga menyebabkan kematian.
3.     Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi tambahan tentang merokok dan dampak yang di timbulkannya.
4.     Bagi pelayanan
Sebagai salah satu masukan untuk di jadikan referensi maupun di kembangkan lebih lanjut.
5.     Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini di maksudkan untuk menambah wawasan bagi mahasiswa/i dan juga peneliti lain, serta sebagai dasar referensi untuk penelitian lebih lanjut. Dan peneliti berharap hasil yang telah di dalam penelitian ini dapat di kembangkan menjadi penelitian yang lebih komplek, karena hasil penelitian ini hanya menggambarkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang merokok.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar