BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam menunjang pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan sekolah dasar sembilan tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pengajaran sebagai aktifitas operasional pendidikan dilaksanakan oleh tenaga pendidik, dalam hal ini guru (Winkel, 1999:56).
Menurut Djamarah (2002:49) Guru sebagai tenaga pendidik mempunyai tujuan utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu: menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat, sebab dengan suasana belajar yang menyenangkan akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Prestasi belajar siswa merupakan suatu indikasi dari perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengalami proses belajar-mengajar. Dari prestasi inilah dapat dilihat keberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran.
IPA sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya dalam membentuk siswa menjadi berkualitas maupun terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan umum yang dapat dijumpai di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa sebagian besar pengajaran IPA diberikan secara klasikal melalui metode ceramah tanpa banyak melihat kemungkinan penerapan model lain yang sesuai dengan jenis materi, bahan, dan alat yang tersedia. Hal ini terbukti berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di SD Negeri xxxxxxxxx yang masih kurang menerapkan model atau pendekatan yang sesuai dengan materi pelajaran. Guru atau pengajar di SD tersebut lebih sering menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas sehingga menimbulkan kebosanan pada siswa, hal ini menyebabkan hasil belajar siswa disana kurang mencapai target yang diinginkan khususnya pada mata pelajaran IPA, dari hasil observasi dokumentasi yang peneliti lakukan terlihat hasil nilai belajar IPA kelas IV SD Negeri Xxxxxxxxx rata-rata secara klasikal hanya 6,5. Sedangkan secara individual hasil belajar siswa yang diatas 7 hanya dicapai 25%, dan 75% lagi masih dibawah 7 dan 6.
Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan dan prestasi belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru di kelas. Kecenderungan guru mengajar di kelas, guru hanya menulis materi dari buku paket di papan tulis, kemudian memberikan tugas yang ada pada buku paket tersebut. Hal ini tentu saja akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar karena siswa merasa jenuh dengan pola pembelajaran yang sama secara terus-menerus. Karena itu guru diharapkan mampu dan mau menggunakan model dan pendekatan pembelajaran yang lebih bervariasi yang dapat membangkitkan daya kreativitas dan motivasi siswa untuk belajar secara mandiri dan bekerja sama dengan siswa yang lain dalam kelompok-kelompok belajar. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SD Negeri I Xxxxxxxxx bahwa guru jarang sekali memakai model dan pendekatan dengan model mengajar yang inovatif. Pada umumnya guru mengajar materi IPA dengan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Oleh sebab itu, perlu diterapkan suatu model tertentu dalam pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa secara keseluruhan, memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal sekaligus mengembangkan aspek kepribadian seperti kerja sama, bertanggung jawab, dan disiplin.
Menurut Nasution (1992:172) “belajar kelompok adalah cara individu mengadakan relasi dalam kelompok demokratis artinya bahwa setiap individu berpartisipasi, ikut serta secara aktif dan bekerjasama”.
Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa untuk berperan aktif dan juga menyenangkan dalam proses belajar-mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran di mana semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok sehingga saat ditunjuk untuk mempresentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor bagi kelompoknya.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti/penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Energi Panas dan Bunyi melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT di Kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx Kabupaten Aceh Besar”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahannya yaitu:
1. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar pada materi energi panas dan energi bunyi.
2. Bagaimana aktivitas guru dan siswa kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar dalam menerapkan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa di kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar yang telah diajarkan menggunakan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.
2. Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa kelas IV SD Xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar dalam menerapkan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat bagi peneliti adalah menambah wawasan serta dengan adanya penelitian ini, di kemudian hari peneliti siap menjadi guru yang profesional dan inovatif dalam mengajarkan IPA di Sekolah Dasar.
2. Bagi siswa, dapat memberikan suasana belajar yang lebih kondusif dan variatif sehingga siswa tidak terus menerus belajar dengan model konvensional, dan diharapkan hal ini membawa dampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
3. Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang lebih efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
4. Bagi sekolah, dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu sekolah.
1.5. Definisi Operasional
Untuk memudahkan pemahaman makna dari kata-kata operasional yang akan dilakukan dalam penelitian ini, maka peneliti mendefinisikan beberapa bagian dari kata operasional yang digunakan, yaitu :
1. Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
2. Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif dimana dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing, permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3. Hasil Belajar berarti hasil usaha. Dalam literatur, prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, yang mana dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan.
4. Energi panas dan bunyi adalah materi pelajaran IPA yang diajarkan di SD Negeri I Xxxxxxxxx semester ganjil yang terdiri dari bentuk, sifat serta sumber energi panas dan bunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar