Kamis, 01 Agustus 2013
Jumat, 29 Maret 2013
FAKTOR-FAKTOR MOTIVASI IBU DALAM PELAKSANAAN SENAM HAMIL DI POLINDES DESA LIMPOK KABUPATEN ACEH BESAR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehamilan adalah suatu hal yang
sangat istimewa bagi seorang wanita dan merupakan masa yang paling
membahagiakan. Tetapi masa kehamilan merupakan masa yang rawan, karena pada masa ini
banyak sekali perubahan yang terjadi. Perubahan itu meliputi perubahan fisik
dan perubahan psikologis. Perubahan fisik misalnya keadaan perut yang semakin
membesar, payudara yang membesar dan menegang. Sedangkan perubahan psikologis
misalnya rasa cemas dan takut menghadapi persalinan dan cemas akan kondisi bayi
dalam kandungan (Conectique, 2007).
Perubahan yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan
dapat berlangsung secara fisiologis. Perubahan yang terjadi pada masa kehamilan
tersebut mungkin dapat menjadi penyulit selama masa kehamilan maupun masa
persalinan. Penyulit selama masa kehamilan misalnya nyeri punggung, nyeri
pinggang, nyeri panggul, serta sesak nafas (Conectique, 2007).
Berdasarkan hasil AMP (Audit Maternal dan Perinatal) di rumah sakit umum di Indonesia pada
Januari sampai Desember 2004 mendapatkan bahwa penyulit ibu selama persalinan
paling banyak adalah karena partus lama (16%) yang dipengaruhi oleh faktor
tenaga/power, jalan lahir dan janin. Selain partus lama, terdapat juga partus kasep
(11%), preeklampsia dan eklampsia (6,4%). Sedangkan penyulit bayi terbanyak
adalah asfiksia neonatorum, yaitu 57,7% (Coneqtique, 2007).
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI), angka kematian bayi pada 2002-2003 adalah 35 per 1000 kelahiran
hidup. Oleh karena itu penting dianjurkan pada ibu hamil untuk memeriksakan
dirinya secara rutin dan teratur melalui perawatan selama masa kehamilan (antenatal care) (Conectique, 2007). Perawatan
selama masa kehamilan (antenatal care)
merupakan pemeriksaan kehamilan yang bertujuan untuk memeriksa keadaan ibu
hamil dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap
penyimpangan yang ditemukan.
Dengan pemeriksaan yang teratur ibu
dapat memperoleh kebutuhan yang sesuai untuk diri dan janinnya, juga
mendapatkan penanganan segera bila terdapat komplikasi kehamilan dan
kemungkinan penyulit saat persalinan. Salah satu bentuk perawatan antenatal adalah
senam hamil Senam hamil merupakan salah satu kegiatan dalam pelayanan selama
kehamilan (antenatal care) (Viscera,
2005).
Kehadiran senam hamil dilatarbelakangi
hasil penelitian seorang ahli kebidanan bernama Dr. Gratley Dick Read dan
dilanjutkan oleh muridnya Helen Heardman (fisioterapis). Dari hasil penelitian
tersebut, mereka sepakat bahwa setiap wanita harus dipersiapkan secara mental
dan fisik untuk melahirkan bayi. Persiapan ini akan sangat bermanfaat apabila
juga dibarengi dengan tindakan relaksasi yang bermanfaat pada persalinan, serta
menghilangkan ketakutan dan kecemasan yang biasanya dirasakan banyak wanita (PIHG,
2010).
Manfaat senam hamil diantaranya dapat melatih kelenturan
otot-otot dinding perut dan dasar panggul sehingga memudahkan persalinan,
membantu ibu dalam proses melahirkan, untuk mengejan dan mengatur napas (Iis,
2008). Menurut Ayu (2001), senam hamil juga melonggarkan persendian yang
berhubungan dengan persalinan, dapat memperbaiki kedudukan janin, meningkatkan
ketegangan dan kepercayaan diri menghadapi persalinan, memperoleh pengetahuan
dan kemampuan mengatur pernapasan, relaksasi. Senam juga meningkatkan kemampuan
mengkoordinasikan kekuatan kontraksi otot rahim, dan meningkatkan kesegaran
jasmani dan rohani ibu hamil.
Senam hamil juga penting untuk ibu hamil yang ingin
melahirkan secara normal setelah persalinan sebelumnya dilakukan tindakan operasi
cesar. Menurut
Simkin dan Walley, sebagian besar wanita disarankan harus melahirkan normal
setelah persalinan yang pertama cesar. Bedah cesar meninggalkan bekas jaringan
parut yang kuat dan kondisi rahim yang sehat, ini menandakan suatu kondisi
persalinan dan melahirkan lewat vagina kecil kemungkinannya membuat jaringan
parut terbuka (Viscera, 2005).
Bagi ibu yang melahirkan dengan VBAC memiliki beberapa
syarat, diantaranya indikasi operasi sebelumnya bukan karena panggul sempit,
letak bayi kepala, proses penyembuhan luka operasi baik, perkiraan berat badan
bayi tidak boleh lebih dari 4 Kg, bukan kehamilan kembar, dan belahan operasi
cesar sebelumnya tidak tegak lurus (vertikal). Proses mengejan saat pembukaan
lengkap hanya boleh 2 x 15 menit. Elastisitas otot perut dan bekas luka operasi
cesar yang telah merapat juga menjadi hal yang dipertimbangkan (Santoso, 2010).
Melalui senam hamil yang rutin dilakukan ibu hamil maka
dapat membantu ibu untuk mengejan dan mengatur napas lebih optimal, dan mempertahankan
elastisitas otot perut saat kontraksi, sehingga ibu dapat melahirkan dengan
VBAC. Pada wanita-wanita hamil yang melakukan senam hamil secara teratur
dilaporkan memberikan keuntungan persalinannya masa aktifnya (kala II) menjadi
lebih pendek, mengurangi insiden
operasi
s
ectio
cae
s
aria
,
mengurangi pengeluaran
mekonium
di
dalam cairan
amnion
dan
mengurangi terjadinya gawat janin pada waktu persalinan (Viscera, 1995).Dari
penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas NegeriSebelas Maret
sejak tahun 2000, terhadap 68 ibu hamil, senam hamil ini terbuktimemberikan
kontribusi yang besar untuk melancarkan proses persalinan.
Terutamauntuk mengurangi perasaan stres dan nyeri
saat melahirkan. Jadi diperlukan sebuahmetode yang murah, mudah dilakukan, dan
mengandung unsur pendidikan, sertadapat dilakukan oleh masyarakat. Salah
satunya adalah dengan senam hamil.Tetapi, senam hamil yang kita terapkan, bukan
senam yang berorientasi sebataspada kebugaran tubuh semata. Melainkan untuk memperkuat
otot, melenturkanpersendian. Dan utamanya melatih konsentrasi agar bisa
mengalihkan pikiransehingga bisa melupakan rasa sakit saat melahirkan. Serta
menguatkan napas(Mulyata, 2000).Dalam perkembangannya, senam hamil banyak
menimbulkan kontroversi.Sampai saat ini masih banyak opini di masyarakat bahwa
senam hamil dapatmencederai janin dan khawatir akan kondisi kandungannya
memburuk ketika senamhamil dilakukan (Adiyono, 2002).Menurut studi pendahuluan
yang dilakukan oleh Suhita, 2004 di wilayahPuskesmas Rampal Celaket Malang
didapat hasil bahwa pada tahun 2003 ada 469ibu hamil yang datang ke poli hamil.
Dari jumlah tersebut yang memenuhi kriteriauntuk mengikuti senam hamil sebanyak
342 orang. Dari 342 orang tersebut hanya11,1 % ibu hamil yang mengikuti senam
hamil. Dalam penelitiannya Suhitamenemukan faktor biaya menjadi hambatan
terbesar.
Berdasarkan
studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Rumah SakitBersalin Mutiara
Bunda Malang tercatat bahwa selama bulan Oktober 2007 ada 72ibu hamil yang
datang untuk kontrol ke poli hamil dan kondisinya memenuhi kriteriauntuk
mengikuti senam hamil. Namun dari jumlah tersebut hanya 17 ibu hamil yangikut
serta dalam senam hamil.Maka berdasarkan fenomena yang ada diatas, peneliti
tertarik untukmengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana hubungan faktor
internal denganperan serta ibu hamil dalam mengikuti senam hamil di Rumah Sakit
Bersalin MutiaraBunda Malang.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan yaitu:apakah ada hubungan
faktor internal dengan peran serta ibu hamil dalam mengikutisenam hamil di
Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Malang?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1.
Tujuan UmumMengetahui
hubungan faktor internal dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam
hamil di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Malang1.3.2. Tujuan Khusus1.
Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil
yang mengikuti senam hamil danibu
hamil yang tidak mengikuti senam hamil.
2.
Mengidentifikasi sikap ibu hamil yang mengikuti
senam hamil dan ibuhamil yang tidak mengikuti senam
hamil.3. Mengidentifikasi motivasi ibu hamil yang
mengikuti senam hamil dan ibuhamil
yang tidak mengikuti senam hamil.4. Mengetahui hubungan pengetahuan
dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam hamil5. Mengetahui hubungan
sikap dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam hamil6. Mengetahui
hubungan motivasi dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti
senam hamil
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1
Manfaat TeoritisMenambah
khasanah ilmu keperawatan, khususnya keperawatan maternitas,yaitu mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi peran serta ibu hamildalam mengikuti senam
hamil. Diharapkan nantinya, sebagai perawat kitadapat berperan aktif dalam
upaya meningkatkan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam hamil.1.4.2
Manfaat PraktisDiharapkan
kepada petugas kesehatan khususnya dalam hal ini perawatmengoptimalkan
pemberian informasi tentang senam hamil kepada ibu hamiluntuk meningkatkan
peran serta ibu hamil dalam mengikuti senam hamil.
BAB
III
KERANGKA
KONSEP 3.1 Kerangka Konsep
Keterangan
:: variabel yang diteliti: variabel yang tidak ditelitiPeran Serta
Ibu Hamil DalamMengikuti Senam Hamil
Faktor
Eksternal
Lingkungansosial
FasilitasDengan
senam hamil diharapakan dapatmembantu memperlancar prosespersalinan
Faktor
Internal
Emosi
Intelejensi
Keyakinan
Pengetahuan
Sikap
Motivasi


3.2
Hipotesis
y
Mayor
Ada
hubungan faktor intenal dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam hamil
y
Minor
1)
Ada hubungan pengetahuan dengan peran serta ibu
hamil dalammengikuti senam hamil2) Ada hubungan sikap dengan
peran serta ibu hamil dalam
mengikutisenam hamil3) Ada hubungan motivasi dengan
peran serta ibu hamil dalammengikuti senam hamil
BAB
IPENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Kehamilan
adalah suatu hal yang sangat istimewa bagi seorang wanita danmerupakan masa
yang paling membahagiakan. Tetapi masa kehamilan merupakanmasa yang rawan,
karena pada masa ini banyak sekali perubahan yang terjadi.Perubahan itu
meliputi perubahan fisik dan perubahan psikologis. Perubahan fisikmisalnya
keadaan perut yang semakin membesar, payudara yang membesar danmenegang.
Sedangkan perubahan psikologis misalnya rasa cemas dan takutmenghadapi
persalinan dan cemas akan kondisi bayi dalam kandungan(Conectique,
2007).Perubahan yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan dapat
berlangsungsecara fisiologis. Perubahan yang terjadi pada masa kehamilan
tersebut mungkindapat menjadi penyulit selama masa kehamilan maupun masa
persalinan. Penyulitselama masa kehamilan misalnya nyeri punggung, nyeri
pinggang, nyeri panggul,serta sesak nafas. Sedangkan berdasarkan hasil AMP
(Audit Maternal danPerinatal) di RSUD Jombang yang merupakan salah satu rumah
sakit rujukan,selama periode Januari sampai Desember 1994 mendapatkan bahwa
penyulit ibuselama persalinan paling banyak adalah karena partus lama (16%)
yang dipengaruhioleh faktor tenaga/power, jalan lahir dan janin. Selain partus
lama, terdapat juga
partus
kasep (11%), preeklampsia dan eklampsia (6,4%). Sedangkan penyulit
bayiterbanyak adalah asfiksia neonatorum, yaitu 57,7% (Supriatmadja,
2005).Adanya penyulit selama masa kehamilan dan selama masa persalinan
sertapenyulit pada bayi dapat meningkatkan angka kematian ibu dan angka
kematianbayi. Karena ternyata angka kematian maternal dan perinatal yang
merupakanindikator keberhasilan pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan
kebidanan danperinatal, di Indonesia masih cukup tinggi. Indonesia menempati
urutan keduatertinggi di dunia setelah Bangladesh dalam kasus kematian ibu saat
melahirkan.Dan untuk kawasan Asia Tenggara, kita masih berada pada urutan
pertama. Pada2004 angka kematian ibu di Indonesia mencapai 307 orang per
100.000 kelahiranatau sekitar 15.700 wanita hamil dan melahirkan meninggal
dunia per tahunnya(Saptandari, 2007). Sedangkan menurut Kepala Dinas Kesehatan
KabupatenMalang, angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Malang terus
meningkat.Pada 2004 ibu meninggal saat melahirkan berjumlah 19 orang. Jumlah
ini meningkatmenjadi 34 orang pada 2005. Adapun pada Januari hingga Mei 2006
angkakematian sudah mencapai 13 orang (Fauzi, 2006). Menurut Survei
Demografikesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi pada 2002-2003 adalah
35 per 1000 kelahiran hidup. Oleh karena itu penting dianjurkan pada ibu hamil
untukmemeriksakan dirinya secara rutin dan teratur melalui perawatan selama
masakehamilan (
antenatal
care
)
(Conectique, 2007).Perawatan selama masa kehamilan (
antenatal
care
)
merupakanpemeriksaan kehamilan yang bertujuan untuk memeriksa keadaan ibu hamil
danjanin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan
yang
ditemukan.
Dengan
pemeriksaan yang teratur ibu dapat memperolehkebutuhan yang sesuai untuk diri
dan janinnya, juga mendapatkan penanganansegera bila terdapat komplikasi
kehamilan dan kemungkinan penyulit saat persalinan(Conectique, 2007). Salah
satu bentuk perawatan
antenatal
adalah
senam hamil(Viscera, 2005).Senam hamil merupakan salah satu kegiatan dalam
pelayanan selamakehamilan
(antenatal
care)
.
Senam hamil akan memberikan suatu hasil produkkehamilan atau
outcome
persalinan
yang lebih baik, karena mampumemanipulasi/mengendalikan faktor penyebab
persalinan yang memanjang/lamayakni dengan meningkatkan tenaga/power ibu saat
persalinan. Kegunaan senamhamil di dalam
antenatal
care
dilaporkan
akan menaikkan dan mengurangiterjadinya berat badan bayi lahir rendah,
mengurangi terjadinya persalinan prematur.Secara keseluruhan senam hamil akan
berdampak sebagai suatu kenaikankesehatan wanita hamil itu sendiri menjadi
lebih baik (Viscera, 1995).Senam hamil terbukti dapat membantu dalam perubahaan
metabolismetubuh selama kehamilan. Keuntungannya adalah meningginya konsumsi
oksigenuntuk tubuh, aliran darah jantung, stroke volume dan curah jantung.
Perubahan-perubahan peranan jantung atau kardiovaskuler selama kehamilan
denganmelakukan senam hamil akan membantu fungsi jantung sehingga para ibu
hamilakan merasa lebih sehat dan tidak merasa sesak nafas. Pada wanita-wanita
hamilyang melakukan senam hamil secara teratur dilaporkan memberikan
keuntunganpersalinannya masa aktifnya (kala II) menjadi lebih pendek,
mengurangi insiden
operasi
s
ectio
cae
s
aria
,
mengurangi pengeluaran
mekonium
di
dalam cairan
amnion
dan
mengurangi terjadinya gawat janin pada waktu persalinan (Viscera, 1995).Dari
penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas NegeriSebelas Maret
sejak tahun 2000, terhadap 68 ibu hamil, senam hamil ini terbuktimemberikan
kontribusi yang besar untuk melancarkan proses persalinan.
Terutamauntuk mengurangi perasaan stres dan nyeri
saat melahirkan. Jadi diperlukan sebuahmetode yang murah, mudah dilakukan, dan
mengandung unsur pendidikan, sertadapat dilakukan oleh masyarakat. Salah
satunya adalah dengan senam hamil.Tetapi, senam hamil yang kita terapkan, bukan
senam yang berorientasi sebataspada kebugaran tubuh semata. Melainkan untuk
memperkuat otot, melenturkanpersendian. Dan utamanya melatih konsentrasi agar
bisa mengalihkan pikiransehingga bisa melupakan rasa sakit saat melahirkan.
Serta menguatkan napas(Mulyata, 2000).Dalam perkembangannya, senam hamil banyak
menimbulkan kontroversi.Sampai saat ini masih banyak opini di masyarakat bahwa
senam hamil dapatmencederai janin dan khawatir akan kondisi kandungannya
memburuk ketika senamhamil dilakukan (Adiyono, 2002).Menurut studi pendahuluan
yang dilakukan oleh Suhita, 2004 di wilayahPuskesmas Rampal Celaket Malang
didapat hasil bahwa pada tahun 2003 ada 469ibu hamil yang datang ke poli hamil.
Dari jumlah tersebut yang memenuhi kriteriauntuk mengikuti senam hamil sebanyak
342 orang. Dari 342 orang tersebut hanya11,1 % ibu hamil yang mengikuti senam
hamil. Dalam penelitiannya Suhitamenemukan faktor biaya menjadi hambatan
terbesar.
Berdasarkan
studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di Rumah SakitBersalin Mutiara
Bunda Malang tercatat bahwa selama bulan Oktober 2007 ada 72ibu hamil yang
datang untuk kontrol ke poli hamil dan kondisinya memenuhi kriteriauntuk
mengikuti senam hamil. Namun dari jumlah tersebut hanya 17 ibu hamil yangikut
serta dalam senam hamil.Maka berdasarkan fenomena yang ada diatas, peneliti
tertarik untukmengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana hubungan faktor
internal denganperan serta ibu hamil dalam mengikuti senam hamil di Rumah Sakit
Bersalin MutiaraBunda Malang.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan yaitu:apakah ada hubungan
faktor internal dengan peran serta ibu hamil dalam mengikutisenam hamil di
Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Malang?
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1.
Tujuan UmumMengetahui
hubungan faktor internal dengan peran serta ibu hamil dalammengikuti senam
hamil di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda Malang1.3.2. Tujuan Khusus1.
Mengidentifikasi pengetahuan ibu hamil
yang mengikuti senam hamil danibu
hamil yang tidak mengikuti senam hamil.
operasi section caesaria, mengurangi pengeluaran mekonium di dalam cairan amnion dan mengurangi terjadinya gawat janin pada
waktu persalinan (Viscera, 2005).
Perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari
berbagai gejala kejiwaan, diantaranya pengetahuan dan motivasi. Maslow
menjelaskan teori motivasi dengan mempelajari kebutuhan-kebutuhan. Teori ini
Maslow menyusun kebutuhan manusia secara hierarki (Notoatmodjo, 2007).
Dari penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas
Negeri Sebelas Maret sejak tahun 2007, terhadap 68 ibu hamil, senam hamil ini
terbukti memberikan kontribusi yang besar untuk melancarkan proses persalinan.
Terutama untuk mengurangi perasaan stres dan nyeri saat melahirkan. Jadi diperlukan
sebuah metode yang murah, mudah dilakukan, dan mengandung unsur pendidikan,
serta dapat dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya adalah dengan senam hamil.
Tetapi, senam hamil yang kita terapkan, bukan senam yang berorientasi sebatas
pada kebugaran tubuh semata. Melainkan untuk memperkuat otot, melenturkan
persendian. Dan utamanya melatih konsentrasi agar bisa mengalihkan pikiran
sehingga bisa melupakan rasa sakit saat melahirkan. Serta menguatkan napas
(Mulyata, 2008).
Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan di Desa
Limpok Kabupaten Aceh Besar, diketahui bahwa tahun 2012 terdapat 42 orang ibu
hamil, dan dari jumlah tersebut, sebagian besar ibu hamil ada melakukan
kegiatan senam hamil, namun sebagian lainnya tidak melakukan kegiatan senam
hamil. Hasil wawancara singkat yang peneliti lakukan pada 5 orang ibu hamil
yang tidak melakukan senam hamil, diketahui bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi minat ibu hamil terhadap senam hamil, salah satunya adalah faktor
fisik, hal ini terungkap bahwa bila ibu hamil merasa dalam status kesehatan yang baik, tidak ada keluhan
maka mereka menganggap bahwa tidak perlu melakukan senam kehamilan, yang
terkesan hanya buang-buang waktu saja. Selain itu, faktor sarana dan prasarana
(fasilitas), dimana pelaksanaan senam hamil dilakukan di polindes, sehingga
membuat ibu hamil kesulitan untuk pergi ke polindes untuk mengikuti senam
hamil. Namun, dari kedua faktor yang penulis paparkan di atas, faktor yang
menonjol adalah faktor pengetahuan ibu hamil itu sendiri, dimana pengetahuan
ibu-ibu hamil tersebut masih tergolong rendah, hal ini terungkap dari wawancara
penulis dengan beberapa orang ibu hamil, yang mana ada diantara mereka yang
bahkan tidak mengetahui sama sekali apa itu senam hamil, apa tujuannya, dan apa
pula manfaat dari senam hamil tersebut.
Berdasarkan
uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan
judul “Faktor-Faktor Motivasi Ibu dalam Pelaksanaan Senam Hamil di Polindes Desa
Limpok Kabupaten Aceh Besar tahun 2012”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi motivasi ibu dalam pelaksanaan senam hamil di Polindes Desa Limpok
Kabupaten Aceh Besar tahun 2012”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi ibu dalam pelaksanaan senam hamil di Polindes Desa Limpok
Kabupaten Aceh Besar tahun 2012.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk
mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap motivasi ibu dalam pelaksanaan senam
hamil di Polindes Desa Limpok Kabupaten Aceh Besar tahun 2012
b. Untuk
mengetahui pengaruh informasi terhadap motivasi ibu hamil dalam pelaksanaan
senam hamil di Polindes Desa Limpok Kabupaten Aceh Besar tahun 2012
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi
Peneliti
Untuk
Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam bidang penelitian khususnya
tentang pengetahuan dan wawasan senam hamil
2.
Bagi Masyarakat
Sebagai masukan untuk menambah wawasan dalam meningkatkan
pengetahuan khususnya tentang senam hamil.
3. Bagi
Institusi Kesehatan
Diharapkan
kepada petugas kesehatan khususnya dalam hal ini bidan mengoptimalkan pemberian
informasi tentang senam hamil kepada ibu hamil untuk meningkatkan peran serta
ibu hamil dalam mengikuti senam hamil.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE BUZZ GROUP PADA KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN DI SMP MUHAMMADIYAH BANDA ACEH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Telah banyak orang
memperbincangkan tentang era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan
persaingan baik itu persaingan fisik maupun non fisik. Orang yang akan berhasil
di masa yang akan datang adalah mereka yang memiliki kekuatan fisik dan mental
yang tangguh dan unggul dalam bersaing dengan insan lain, baik di kalangan
bangsanya sendiri maupun bangsa lainnya.
Namun yang menjadi
masalah dan yang selalu dikeluhkan masyarakat sekarang ini adalah mutu lulusan
lembaga-lembaga pendidikan sekarang masih jauh dari yang diharapkan. Lembaga-lembaga
pendidikan lebih terkesan meningkatkan kuantitas lulusannya daripada
kualitasnya, hal ini menyebabkan pengangguran dari semua jenjang pendidikan.
Sekolah adalah
perangkat pendidikan yang menunjang perkembangan ilmu pendidikan. Mengingat
pentingnya biologi maka pengajaran biologi diberbagai jenjang pendidikan sudah
sewajarnya dikembangkan dan diperhatikan. Namun di kalangan siswa sudah sering
beredar bahwa biologi merupakan mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa
kurang berminat mendalami biologi dan menyebabkan hasil belajar biologi rendah.
Dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan adanya pendirian sebagai kebijakan ideologi
yang mempunyai visi tertentu terhadap pendidikan. Kaitan dengan pendidikan
secara bersamaan muncul permasalahan, permasalahan pendidikan yang perlu
dicarikan pemecahannya.
Berdasarkan hasil
wawancara singkat yang peneliti lakukan dengan salah satu guru bidang studi biologi di SMP Muhammadiyah Banda Aceh bahwa nilai
rata-rata biologi mencapai 6,2. Nilai rata-rata ini masih rendah, karena tidak
mencapai ketuntasan belajar secara klasikal, dimana ketuntasan klasikal untuk
mata pelajaran biologi di SMP Muhammadiyah Banda Aceh adalah 6,3.
Rendahnya prestasi
belajar siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada mata pelajaran biologi
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah rendahnya minat dan
motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar. Minat dan
motivasi siswa bisa ditingkatkan dengan pemilihan strategi atau model
pembelajaran yang tepat. Setiap siswa mempunyai cara atau gaya sendiri dalam belajarnya seperti cara
belajar dengan cara melihat (visual),
dengan cara mendengar (auditory) atau
dengan cara bekerja, bergerak atau menyentuh (kinestetik). Untuk mendukung gaya
siswa dalam belajar perlu dikembangkan sistem belajar yang efektif. Dalam
belajar selalu ciptakan mood yang positif, fokuskan mempelajari pelajaran yang
tidak kamu pahami, ulanglah materi pelajaran dan kembangkan materi yang telah
dipelajari selain itu ketahuilah kesulitan-kesulitan belajar dan melengkapi
sumber utama belajar.
Salah satu model
pembelajaran yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa adalah dengan
menerapkan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan
salah satu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk berperan
aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, tidak hanya itu siswa juga bisa
saling mengajar dengan siswa lainnya. Selain itu metode kooperatif menanamkan
pada siswa bahwa mereka memiliki peranan yang sama untuk mencapai tujuan akhir
belajar, penguasaan materi pelajaran dan keberhasilan belajar yang tidak
semata-mata dapat ditentukan oleh guru, tapi merupakan tanggung jawab bersama.
Robert E Slavin
mengemukakan bahwa “kooperatif pada dasarnya merupakan suatu model pembelajaran
di mana siswa belajar dan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil serta
kolaboratif anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan struktur kelompok yang
heterogen”[1].
Sagala mengemukakan dampak positif dari belajar kelompok adalah ”dapat
menimbulkan kesadaran akan adanya kompetitif yang sehat, sehingga membangkitkan
kemauan belajar yang sungguh-sungguh”[2].
Robert E. Slavin
juga mengemukakan bahwa kooperatif akan menghasilkan “cooperative behaviours and attitudes that contributed to be success
and/of failure of these group”,[3]
maksudnya adalah bekerjasama menghasilkan sikap dan perilaku yang pada akhirnya
akan berpengaruh terhadap keberhasilan dan/atau kegagalan kelompok tersebut
dalam mencapai tujuan belajar. menambahkan bahwa aspek lain yang dapat
berkembang dalam pelaksanaan metode cooperative learning adalah sikap saling
tolong menolong dan tolong menolong merupakan salah satu sikap positif dalam
perilaku sosial seseorang.
Pembelajaran
kooperatif dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran biasa,
karena melalui kooperatif siswa lebih leluasa untuk saling memberi dan menerima
materi tanpa rasa segan. Sesuai yang dikatakan Lie bahwa: “Banyak penelitian
menunjukkan bahwa pengajaran oleh rekan sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif dari pada pengajaran oleh
guru dikarenakan mereka memiliki schemata
yang hampir sama dibandingkan dengan schemata guru”.[4]
Hal ini sangat
berbeda bila guru hanya mengandalkan metode ceramah sebagai salah satu upaya
dalam menyampaikan materi pelajaran. Metode ceramah adalah suatu metode yang
digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang suatu pokok
persoalan atau masalah secara lisan. Dengan metode ceramah, guru akan mudah
mengawasi ketertiban siswa dalam mendengarkan pelajaran, disebabkan mereka
melakukan kegiatan yang sama. Akan tetapi dengan metode tersebut guru sulit
mengontrol sejauh mana pengetahuan siswa terhadap pelajaran yang telah
disampaikan.
Materi struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan merupakan materi yang sulit dipahami oleh para siswa, dimana
pada materi tersebut para siswa dituntut untuk menghafal dan mengingat semua
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan, yang jumlahnya sangat banyak, sehingga
membuat para siswa menjadi bingung. Dalam menghadapi situasi seperti ini, diperlukan
suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam forum
diskusi, hal ini akan berdampak pada daya ingat siswa, karena siswa terlibat
langsung dalam diskusi, yang secara langsung partisipasi siswa di dalam diskusi
tersebut akan membekas dalam ingatan para siswa. Salah satu model pembelajaran
kooperatif yang tepat untuk diterapkan dalam materi struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan adalah model pembelajaran kooperatif tipe buzz group.
Model kooperatif
tipe buzz group merupakan bagian dari metode diskusi, dimana dalam metode ini
anggotanya berjumlah 3-4 orang dan waktu yang digunakan juga relatif lebih
singkat. Menurut Slameto “kelompok studi kecil (Buzz Group) adalah pemecahan
kelompok yang lebih besar. Kelompok kecil ini membahas tugas yang diberikan,
dan biasanya melaporkan pada kelompok yang lebih besar.”[5]
Sedangkan Dimyati mengatakan bahwa ”jenis diskusi kelompok kecil yang
beranggota 3-4 orang yang bertamu secara bersama-sama membicarakan suatu topik
yang sebelumnya telah dibicarakan secara klasikal.”[6]
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi ini yang dapat
diadakan di tengah atau di akhir jam pelajaran dengan maksud menajamkan rangka
isi pelajaran, memperjelas isi pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Hasil observasi
awal yang peneliti lakukan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh, khususnya di kelas
VIII pada pembelajaran biologi, terlihat bahwa kegiatan belajar mengajar masih
bersifat terpusat kepada guru, sehingga para siswa menjadi tidak fokus, dan
banyak para siswa yang hanya bermain dan bersenda gurau dengan teman
sebangkunya. Hal ini secara langsung berpengaruh terhadap pemahaman siswa
terhadap materi yang diberikan guru, yang juga berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar tersebut hanya guru saja yang
aktif, berceramah, dan berbicara sendirian di depan kelas, padahal materi
pembelajaran biologi bersifat hafalan yang menuntut siswa untuk mampu mengingat
semua materi yang disampaikan. Namun, jika kegiatan belajar mengajar yang hanya
bersifat terpusat kepada guru, tanpa melibatkan keaktifan para siswa, tujuan
yang hendak dicapai di akhir pembelajaran tidak akan tercapai.
Sehubungan dengan
hal di atas maka pembelajaran diskusi dengan menggunakan tipe buzz group adalah
menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi
siswa bukan hanya guru dan buku bahan ajar tetapi juga sesama siswa. Dengan
demikian maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian eksperimen di
SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dengan judul ”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Buzz Group Pada Konsep
Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah:
1) Apakah
hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe buzz
group pada konsep struktur dan fungsi jaringan tumbuhan di SMP Muhammadiyah
Banda Aceh?”
2) Bagaimanakah
respon siswa SMP Muhammadiyah Banda Aceh pada konsep struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe buzz
group?
C. Penjelasan Istilah
Untuk menghindari terjadinya salah pentafsiran
bagi para pembaca maka penulis akan memberikan beberapa pengertian istilah
dalam proposal ini:
1.
Prestasi belajar
dalam penelitian ini adalah penilaian hasil kegiatan belajar siswa yang
dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat
mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu.
2.
Pembelajaran
kooperatif tipe buzz group merupakan model pembelajaran diskusi dimana setiap
anggota tim bertanggungjawab untuk materi belajar yang ditugaskan kepadanya,
kemudian mengajarkan materi tersebut dalam kelompok kecil dan
mempersentasekannya dalam kelompok besar dengan menyuruh salah satu pelapor
dari setiap kelompok. Teknik pembelajaran ini merupakan salah satu usaha guru
melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar.[7]
3.
Konsep struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan merupakan konsep yang diajarkan di kelas VIII semester
I pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar kompetensi konsep
ini berupa memahami sistem dalam kehidupan tumbuhan, dengan kompetensi dasar mengidentifikasi
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan..
4.
SMP Muhammadiyah
Banda Aceh merupakan salah satu sekolah menengah tingkat pertama swasta yang
berada di kota Banda Aceh, tepatnya terletak di
Jalan Prof. A Majid Ibrahim Lampaseh Kota Banda Aceh. SMP Muhammadiyah Banda
Aceh ini merupakan SMP yang peneliti pilih sebagai tempat untuk melakukan
penelitian, hal ini dikarenakan proses belajar mengajar di SMP Muhammadiyah
Banda Aceh masih bersifat konvensional, sehingga peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian eksperimen di SMP Muhammadiyah Banda Aceh.
Langganan:
Komentar (Atom)