Rabu, 09 Februari 2011

KTI AKPER : GAMBARAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG PROSES PEMBERIAN OBAT DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP 6B DI RUMAH SAKIT xxxxxxxxxxxx BANDA ACEH TAHUN xxxx

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan di luar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung jawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontra indikasi bagi status kesehatan klien. Sekali obat telah diberikan, perawat bertanggung jawab pada efek obat yang diduga bakal terjadi. Buku-buku referensi obat seperti, Daftar Obat Indonesia (DOI), Physicians Desk Reference (PDR), dan sumber daya manusia, seperti ahli farmasi, harus dimanfaatkan perawat jika merasa tidak jelas mengenai reaksi terapeutik yang diharapkan, kontra indikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi, atau reaksi yang merugikan dari pengobatan (Kee and Hayes, 1996 ).
Keselamatan pasien merupakan isu global yang paling penting saat ini dimana sekarang banyak dilaporkan tuntutan pasien atas medical error yang terjadi pada dirinya. Menurut laporan Institute of Medicine (IOM) di Amerika Serikat dilaporkan bahwa setiap tahun minimal terdapat 48-100 ribu pasien meninggal akibat medical error di pusat-pusat layanan kesehatan menyebabkan tuntutan hukum yang dialami rumah sakit semakin meningkat.
Rumah sakit perlu mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui Program Keselamatan Pasien dimana World Health Organization (WHO) telah memulainya pada tahun 2004.
Di Indonesia Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit (GKPRS) dicanangkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada 21 Agustus 2005 (Rahayuningsih, 2006). Setiap rumah sakit membentuk tim keselamatan pasien rumah sakit. Kejadian yang terjadi dibahas oleh tim, dianalisa dan dilaporkan kepada pusat tanpa pasien tersebut tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Hal ini yang membuat keselamatan pasien rumah sakit di Indonesia belum maksimal karena setiap data dan kejadian yang terjadi tidak boleh diberitahukan kepada pasien dan masyarakat umum.
Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit adalah suatu sistem yang mencegah terjadinya cidera yang disebabkan kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission). Cidera adalah suatu kejadian tidak diharapkan yang rawan terjadi pada tempat-tempat seperti pada diagnostik, perawatan, pencegahan dan lain-lain. Pada keperawatan kesalahan yang dapat terjadi misalnya pada pelaksanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat/alat, keterlambatan terapi dan asuhan yang tidak layak atau bukan indikasi (Rahayuningsih, 2006).
Pada setiap aspek pemberian obat, perawat harus yakin tentang order pengobatan yang dibuat oleh dokter sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dalam pelaksanaannya (Kozier, 1990). Dengan melihat jenis order pengobatan, maka bila ada kesalahan atau kekeliruan, penyidik akan mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Dalam hal ini, perawat dapat dituntut bila ia menyimpang dari order yang diberikan sehingga menyebabkan masalah pada pasien. Untuk mencegah jangan sampai terkena sanksi ini, maka perawat harus selalu teliti, benar dan hati-hati (Prihardjo, 1993).
Tidak ada obat yang tidak berbahaya, dalam beberapa hal secara potensial semuanya beracun dan harus ditetapkan serta digunakan secara hati-hati. Bagaimanapun juga bahaya obat dapat sangat dikurangi dengan cara mengikuti ketentuan-ketentuan standar mutu obat yang tinggi, penetapan terapi obat yang normal dan penggunaan obat yang tepat oleh pasien (Potter, P.A., 2005).
Menurut Sanbar (dalam Daud, A.W., 2006) menyatakan dosis kurang merupakan rangking keenam dari 10 kasus terbanyak berdasarkan frekuensi kejadian dirumah sakit dengan jumlah tuntutan ada 304 kasus dan terjadi kasus efek samping obat pada rangking 6 dengan 223 kasus yang masuk ke St Paul Fire and Marine Insurence Co pada tahun 1996. Di Indonesia sendiri data tentang kejadian yang tidak diharapkan apalagi nyaris terjadi masih langka tetapi telah berkembang dengan marak tuduhan mal praktek yang belum tentu sesuai dengan pembuktian akhir. Upaya-upaya tersebut juga untuk meningkatkan mutu pelayanan namun kejadian yang tidak diharapkan masih sering terjadi dengan tuntutan pasien.
Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. Walaupun obat menguntungkan klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila tidak tepat diberikan.
Perawat sebagai salah satu pelaksana terapi berpotensi besar melakukan suatu kesalahan jika tidak mempunyai tingkat pengetahuan dan kesadaran yang tinggi bahwa tindakan yang dilakukan akan memberikan efek pada pasien. Salah satu contohnya adalah dalam pemberian obat. Data tentang kesalahan pemberian obat (medication error) yang dilakukan terutama oleh perawat di Indonesia belum dapat ditemukan. Darmansjah, ahli farmakologi FKUI menyatakan bahwa kasus pemberian obat yang tidak benar maupun tindakan medis yang berlebihan (tidak perlu dilakukan tetapi dilakukan) sering terjadi di Indonesia, hanya saja tidak terekspos media massa (Qosim, 2007).
Rencana perawatan harus mencakup rencana pemberian obat, bergantung pada hasil pengkajian, pengetahuan tentang kerja dan interaksi obat, efek samping, lama kerja, dan program dokter. Secara teoritis proses pemberian obat harus berdasarkan prinsip enam benar yang meliputi benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara pemberian, benar waktu pemberian dan benar dalam pendokumentasian (Kee dan Heyes, 1997).
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti bahwa masih banyak kejanggalan dan permasalahan yang dilakukan oleh petugas perawat pelaksana di Rumah Sakit Tingkat III Kesdam Banda Aceh, sehingga kurangnya efektif dan efisien pemberian obat 6B sehingga dapat merugikan pasien, dan berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Gambaran Pengetahuan Perawat tentang Proses Pemberian Obat dengan Menggunakan Prinsip 6B di Rumah Sakit Tingkat xxxxxxxxx Banda Aceh Tahun xxxx”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka peneliti merumuskan permasalahan, yaitu “bagaimana pengetahuan perawat tentang proses pemberian obat dengan menggunakan prinsip 6B di Rumah Sakit xxxxxxxxxxxxx Banda Aceh tahun xxxxx”.

Senin, 07 Februari 2011

KTI AKBID : GAMBARAN PERAN DAN MOTIVASI SUAMI PADA SAAT MENDAMPINGI ISTRI PERSALINAN DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM xxxxxxxxxx BANDA ACEH TAHUN xxxx

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perlu ditunjukkan derajat kesehatan yang optimal sebagaimana salah satu agenda dalam pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang untuk hidup sehat yaitu PHBS (prilaku hidup sehat dan bersih) pada tahun 2015 (Depkes RI, 2004).
Rawannya kesehatan ibu memberi dampak yang bukan hanya terbatas pada kesehatan ibu saja tetapi berpengaruh secaa langsung terhadap kesehatan serta menurunkan angka kematian ibu dan janin (Depkes RI, 2001).
Sesuai dengan visi Indonesia sehat, untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak dilaksanakan suatu program Asuhan Sayang Ibu. Dengan adanya Program ini diharapkan angka kematian Bayi. Dalam program Asuhan Sayang Ibu keterlibatan suami sangat banyak misalnya membawa atau menemani untuk memeriksa kehamilan. Memberi dukungan moril kepada istri saat hamil dan melahirkan. Di daerah pedesaan pera dan motivasi suami terhadap istri baik saat hamil maupun melahirkan sangat kurang. Hal ini karan masih adanya “Tabu” atau pantangan pada masyarakat misalnya menemani saat melahirkan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit untuk dihilangkan. Disamping itu, kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya peran dan motivasi suami terhadap istri saat hamil dan dilahirkan.
Selain memberikan pelayanan kesehatan dengan jangkauan pelayanan persalinan, dalam proses persalinan normal ada 3 faktor utama yang memengang utama persalinan tersebut yaitu terutama yang ada pada ibu, kekuatan jalan lahir dan janinnya sendiri, faktor pertama yang ada pada ibu dipengaruhi dari faktor dalam diri ibu sendiri dan faktor dari luar. Faktor kekuatan ibu yang datang dari luar misalnya motivasi ibu untuk mengejan. Yang diperoleh terasa lebih kuat mempengaruhi ibu jika adanya peran dan motivasi dari orang yang paling dekat yaitu suami (Hanifa, 2005).
Perlunya motivasi atau dukungan, peran dan partisipasi anggota kelaurga atau suami kepada istri yang akan menjalani persalinan. Seperti yang diungkapkan bahwa persalinan adalah suatu kejadian yang luar biasa yang akan dihadapi oleh seorang istri, karena ibu mempertaruhkan nyawanya dan keadaan yang luar biasa lainnya. Dari segi psikologi seorang istri yang akan melahirkan memerlukan suatu dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Peran suami ikut aktif menjaga proses persalinan, memberikan ketenangan kepada istri, membantu istri untuk rileks, membantu istri pada saat mengedan dan membantu istri cara bernafas. Sedangkan motivasi suami yaitu merencanakan tempat persalinan, menyediakan dana, menyediakan transportasi dan mengambil keputusan yang tepat.
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam jumlah persalinan sebanyak 105.656 orang dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan/bidan pada tahun 2002 baru mencapai 54.325 orang (50,9%) di Banda aceh jumlah persalinan sebanyak 7.785 orang dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan/bidan adalah 4.909 orang (63,03%) sedangkan target yang diinginkan dicapai adalah 80%. Jumlah persalinan di rumah sakit Umum Xxxxxxxxxx Banda Aceh pada tahun 2008 adalah 449 dan pada tahun 2009 sampai bulan Oktober berjumlah 415. berdasarkan laporan yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Xxxxxxxxxx dari bulan Januari sampai Oktober 2009 jumlah ibu bersalin yang didampingi oleh suaminya sebanyak 80% dan yang tidak didampingi sebanyak 20% (Profil Kesehatan NAD, 2004).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di RSU Xxxxxxxxxx Banda Aceh 2009.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di RSU Xxxxxxxxxx tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di tinjau dari pengetahuan.
b. Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di tinjau dari sosial budaya.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :
1. Dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan bagi penulis sehingga mampu membuat sebuah penelitian sederhana di RSU Xxxxxxxxxx Banda aceh.
2. Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan khususnya bagi Bidan sehingga dapat menekan Angka Kematian Ibu yang disebabkan perdarahan Post Partum di masa yang akan datang.

E. Ruang Lingkup
a. Ruang lingkup materi
Ruang lingkup materi pada penelitian ini adalah peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan.
b. Ruang lingkup responden
Kepada suami-suami yang menemani istrinya pada saat melahirkan.
c. Ruang lingkup tempat
Penelitian ini di lakukan di ruang bersalin RSU Xxxxxxxxxx Banda Aceh.
d. Ruang lingkup waktu
Penelitian ini dilakukan mulai tanggal xxxxx s/d xxxxxxx tahun xxxx.

KTI AKBID : GAMBARAN PERAN DAN MOTIVASI SUAMI PADA SAAT MENDAMPINGI ISTRI PERSALINAN DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM xxxxxxxxxx BANDA ACEH TAHUN xxxx

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perlu ditunjukkan derajat kesehatan yang optimal sebagaimana salah satu agenda dalam pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan kualitas sumber daya manusia yang untuk hidup sehat yaitu PHBS (prilaku hidup sehat dan bersih) pada tahun 2015 (Depkes RI, 2004).
Rawannya kesehatan ibu memberi dampak yang bukan hanya terbatas pada kesehatan ibu saja tetapi berpengaruh secaa langsung terhadap kesehatan serta menurunkan angka kematian ibu dan janin (Depkes RI, 2001).
Sesuai dengan visi Indonesia sehat, untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak dilaksanakan suatu program Asuhan Sayang Ibu. Dengan adanya Program ini diharapkan angka kematian Bayi. Dalam program Asuhan Sayang Ibu keterlibatan suami sangat banyak misalnya membawa atau menemani untuk memeriksa kehamilan. Memberi dukungan moril kepada istri saat hamil dan melahirkan. Di daerah pedesaan pera dan motivasi suami terhadap istri baik saat hamil maupun melahirkan sangat kurang. Hal ini karan masih adanya “Tabu” atau pantangan pada masyarakat misalnya menemani saat melahirkan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan sehingga sulit untuk dihilangkan. Disamping itu, kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya peran dan motivasi suami terhadap istri saat hamil dan dilahirkan.
Selain memberikan pelayanan kesehatan dengan jangkauan pelayanan persalinan, dalam proses persalinan normal ada 3 faktor utama yang memengang utama persalinan tersebut yaitu terutama yang ada pada ibu, kekuatan jalan lahir dan janinnya sendiri, faktor pertama yang ada pada ibu dipengaruhi dari faktor dalam diri ibu sendiri dan faktor dari luar. Faktor kekuatan ibu yang datang dari luar misalnya motivasi ibu untuk mengejan. Yang diperoleh terasa lebih kuat mempengaruhi ibu jika adanya peran dan motivasi dari orang yang paling dekat yaitu suami (Hanifa, 2005).
Perlunya motivasi atau dukungan, peran dan partisipasi anggota kelaurga atau suami kepada istri yang akan menjalani persalinan. Seperti yang diungkapkan bahwa persalinan adalah suatu kejadian yang luar biasa yang akan dihadapi oleh seorang istri, karena ibu mempertaruhkan nyawanya dan keadaan yang luar biasa lainnya. Dari segi psikologi seorang istri yang akan melahirkan memerlukan suatu dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Peran suami ikut aktif menjaga proses persalinan, memberikan ketenangan kepada istri, membantu istri untuk rileks, membantu istri pada saat mengedan dan membantu istri cara bernafas. Sedangkan motivasi suami yaitu merencanakan tempat persalinan, menyediakan dana, menyediakan transportasi dan mengambil keputusan yang tepat.
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam jumlah persalinan sebanyak 105.656 orang dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan/bidan pada tahun 2002 baru mencapai 54.325 orang (50,9%) di Banda aceh jumlah persalinan sebanyak 7.785 orang dan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan/bidan adalah 4.909 orang (63,03%) sedangkan target yang diinginkan dicapai adalah 80%. Jumlah persalinan di rumah sakit Umum Xxxxxxxxxx Banda Aceh pada tahun 2008 adalah 449 dan pada tahun 2009 sampai bulan Oktober berjumlah 415. berdasarkan laporan yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Xxxxxxxxxx dari bulan Januari sampai Oktober 2009 jumlah ibu bersalin yang didampingi oleh suaminya sebanyak 80% dan yang tidak didampingi sebanyak 20% (Profil Kesehatan NAD, 2004).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di RSU Xxxxxxxxxx Banda Aceh 2009.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di RSU Xxxxxxxxxx tahun 2009.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di tinjau dari pengetahuan.
b. Untuk mengetahui peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan di tinjau dari sosial budaya.

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah :
1. Dengan adanya penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan bagi penulis sehingga mampu membuat sebuah penelitian sederhana di RSU Xxxxxxxxxx Banda aceh.
2. Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan khususnya bagi Bidan sehingga dapat menekan Angka Kematian Ibu yang disebabkan perdarahan Post Partum di masa yang akan datang.

E. Ruang Lingkup
a. Ruang lingkup materi
Ruang lingkup materi pada penelitian ini adalah peran dan motivasi suami dalam mendampingi istri pada saat persalinan.
b. Ruang lingkup responden
Kepada suami-suami yang menemani istrinya pada saat melahirkan.
c. Ruang lingkup tempat
Penelitian ini di lakukan di ruang bersalin RSU Xxxxxxxxxx Banda Aceh.
d. Ruang lingkup waktu
Penelitian ini dilakukan mulai tanggal xxxxx s/d xxxxxxx tahun xxxx.

Minggu, 06 Februari 2011

KTI AKPER : ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Dt DENGAN SEKSIO CAESAREA INDIKASI LETAK SUNGSANG DI RUANG RAWAT KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN BADAN PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM xxxxxxxxxxxx

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan penelitian WHO diseluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematiaan bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa pertahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama dinegara berkembang sebesar 99%. Kendatipun jumlahnya sangat besar, tetapi tidak menarik perhatian karena kejadiannya tersebar (Prawirohardjo, 2007).
WHO memperkirakan jika ibu hanya melahirkan rata-rata tiga bayi, maka kematian ibu dapat diturunkan menjadi 300.000 jiwa dan kematian bayi sebesar 5.600.000 pertahun. Sebaran kematisan ibu di indonesai bervariasi diantara 130 sampai 780 dalam 100.000 persalinan hidup (Prawirohardjo, 2007).
Metode persalinan merupakan hal yang sangat penting, karena sangat terkait dengan angka kematian dan angka kesakitan baik ibu maupaun bagi bayi yang baru dilahirkan. Metode persalinan yang umum dilakukan ada dua, yakni persalinan normal (melalui jalan lahir ibu) dan bedah Caesar (proses kelahiran yang bukan dari jalan lahir normal, yaitu dengan cara menyayat bagian bawah perut hingga rahim) (w.w.w. Medicastore.com).
Seksio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Prawirohardjo, 2006).
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada dibagian kavum uteri (Prawirohardjo, 2006).
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa jumlah kehamilan letak kepala kurang lebih sekitar 96%. Sedangkan letak defleksi kepala 1,5%, letak sungsang sekitar 2-2,5% dan letak lintang hanya 0,5% (Manuaba, 1998)
Presentasi sungsang terjadi pada 3% sampai 4% dari semua kehamilan. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berhubungan dengan kemampuan janin untuk dapat bergerak bebas dalam uterus. Hal ini diperkirakan benar karena presentasi sungsang berhubungan dengan bayi preterm, plasenta previa, hidramnion, kehamilan multiple, dan kelainan cranial janin (Hamilton, 1995).
Insiden dan fakta mengatakan, meskipun 25% bayi mengalami posisi sungsang sekali waktu dalam kehamilan, namun hanya 3-4% yang tetap sungsang. Bukti menunjukkan bahwa versi sefalik eksternal harus dilakukan pada semua ibu dengan bayi sungsang aterm tanpa komplikasi (Kuncara, 2006).
Pertolongan persalinan letak sungsang secara fisiologis di lakukan menurut Brach. Kegagalan pertolongan secara Brach diikuti oleh persalinan dengan ekstraksi bokong total yang dapat menimbulkan beberapa masalah yaitu perdarahan, robekan jalan lahir, asfiksia bayi trauma persalinan, dan infeksi
Berdasarkan buku register ruang rawat kebidanan dan penyakit kandungan badan pelayanan kesehatan rumah sakit umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, jumlah pasin yang dirawat dari bulan Agustus 2007 sampai Juli 2008 adalah sebanyak 1142 orang, persalinan normal 762 orang (66,72%), vacum ekstraksi 11 orang (0,96%), letak sungsang 34 orang (2,97%) dan persalinan seksio caesaria 335 orang (29,33%).
Berdasarkan masalah tersebut diatas maka penulis tertarik membuat karya tulis ilmiah ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. DT DENGAN POST SEKSIO CAESARIA INDIKASI LETAK SUNGSANG DI RUANG RAWAT KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN BADAN PELAYANAN KESEHATAN RUMAH SAKIT UMUM xxxxxxxx“

1.2 TUJUAN PENULISAN
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny, Dt dengan seksio caesaria indikasi letak sungsang di ruang rawat kebidanan dan penyakit kandungan badan pelayanan kesehatan rumah sakit umum xxxxxxxxxx.
1.2.2 Tujuan Khusus.
a. Dapat melakukan pengkajian secara benar pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.
b. Dapat membuat analisa data dan menentukan diagnosa keperawatan pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.
c. Dapat menyusun perencanaan asuhan keperawatan pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.
d. Dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.
e. Dapat mengevaluasi keberhasilan setiap tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan memodifikasi setiap tindakan bila masalah belum tercapai pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.
f. Dapat melakukan pendokumentasian dari tindakan yang telah dilakukan pada Ny. Dt dengan post seksio caesaria indikasi letak sungsang.

SKRIPSI PTK : PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ENERGI PANAS DAN BUNYI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT (TEAMS GAMES TOURNAMENT) DI KELAS IV SD NEGERI xxxxxxxx KABUPATEN ACEH BESAR

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam menunjang pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada semua jenjang pendidikan sekolah dasar sembilan tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pengajaran sebagai aktifitas operasional pendidikan dilaksanakan oleh tenaga pendidik, dalam hal ini guru (Winkel, 1999:56).
Menurut Djamarah (2002:49) Guru sebagai tenaga pendidik mempunyai tujuan utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu: menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dapat menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat, sebab dengan suasana belajar yang menyenangkan akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Prestasi belajar siswa merupakan suatu indikasi dari perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mengalami proses belajar-mengajar. Dari prestasi inilah dapat dilihat keberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran.
IPA sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya dalam membentuk siswa menjadi berkualitas maupun terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan umum yang dapat dijumpai di sekolah-sekolah menunjukkan bahwa sebagian besar pengajaran IPA diberikan secara klasikal melalui metode ceramah tanpa banyak melihat kemungkinan penerapan model lain yang sesuai dengan jenis materi, bahan, dan alat yang tersedia. Hal ini terbukti berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di SD Negeri xxxxxxxxx yang masih kurang menerapkan model atau pendekatan yang sesuai dengan materi pelajaran. Guru atau pengajar di SD tersebut lebih sering menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas sehingga menimbulkan kebosanan pada siswa, hal ini menyebabkan hasil belajar siswa disana kurang mencapai target yang diinginkan khususnya pada mata pelajaran IPA, dari hasil observasi dokumentasi yang peneliti lakukan terlihat hasil nilai belajar IPA kelas IV SD Negeri Xxxxxxxxx rata-rata secara klasikal hanya 6,5. Sedangkan secara individual hasil belajar siswa yang diatas 7 hanya dicapai 25%, dan 75% lagi masih dibawah 7 dan 6.
Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan dan prestasi belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran, salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru di kelas. Kecenderungan guru mengajar di kelas, guru hanya menulis materi dari buku paket di papan tulis, kemudian memberikan tugas yang ada pada buku paket tersebut. Hal ini tentu saja akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar karena siswa merasa jenuh dengan pola pembelajaran yang sama secara terus-menerus. Karena itu guru diharapkan mampu dan mau menggunakan model dan pendekatan pembelajaran yang lebih bervariasi yang dapat membangkitkan daya kreativitas dan motivasi siswa untuk belajar secara mandiri dan bekerja sama dengan siswa yang lain dalam kelompok-kelompok belajar. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti di SD Negeri I Xxxxxxxxx bahwa guru jarang sekali memakai model dan pendekatan dengan model mengajar yang inovatif. Pada umumnya guru mengajar materi IPA dengan menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas. Oleh sebab itu, perlu diterapkan suatu model tertentu dalam pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa secara keseluruhan, memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal sekaligus mengembangkan aspek kepribadian seperti kerja sama, bertanggung jawab, dan disiplin.
Menurut Nasution (1992:172) “belajar kelompok adalah cara individu mengadakan relasi dalam kelompok demokratis artinya bahwa setiap individu berpartisipasi, ikut serta secara aktif dan bekerjasama”.
Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif yang dianggap peneliti dapat memotivasi siswa untuk berperan aktif dan juga menyenangkan dalam proses belajar-mengajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran di mana semua siswa dalam setiap kelompok diharuskan untuk berusaha memahami dan menguasai materi yang sedang diajarkan dan selalu aktif ketika kerja kelompok sehingga saat ditunjuk untuk mempresentasikan jawabannya, mereka dapat menyumbangkan skor bagi kelompoknya.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti/penulis berkeinginan untuk mengadakan suatu penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi Energi Panas dan Bunyi melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT di Kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx Kabupaten Aceh Besar”.


1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahannya yaitu:
1. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar pada materi energi panas dan energi bunyi.
2. Bagaimana aktivitas guru dan siswa kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar dalam menerapkan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa di kelas IV SD Negeri xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar yang telah diajarkan menggunakan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.
2. Untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa kelas IV SD Xxxxxxxxx kabupaten Aceh Besar dalam menerapkan model kooperatif Tipe TGT pada materi energi panas dan energi bunyi.

1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat bagi peneliti adalah menambah wawasan serta dengan adanya penelitian ini, di kemudian hari peneliti siap menjadi guru yang profesional dan inovatif dalam mengajarkan IPA di Sekolah Dasar.
2. Bagi siswa, dapat memberikan suasana belajar yang lebih kondusif dan variatif sehingga siswa tidak terus menerus belajar dengan model konvensional, dan diharapkan hal ini membawa dampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
3. Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang lebih efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
4. Bagi sekolah, dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu sekolah.

1.5. Definisi Operasional
Untuk memudahkan pemahaman makna dari kata-kata operasional yang akan dilakukan dalam penelitian ini, maka peneliti mendefinisikan beberapa bagian dari kata operasional yang digunakan, yaitu :
1. Pembelajaran Kooperatif merupakan strategi dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
2. Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif dimana dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing, permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3. Hasil Belajar berarti hasil usaha. Dalam literatur, prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, yang mana dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan.
4. Energi panas dan bunyi adalah materi pelajaran IPA yang diajarkan di SD Negeri I Xxxxxxxxx semester ganjil yang terdiri dari bentuk, sifat serta sumber energi panas dan bunyi.

Sabtu, 05 Februari 2011

KTI KEBIDANAN : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI DI PUSKESMAS xxxxxxxxxxxx TAHUN xxxx


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
            Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera) menjadi “Keluarga Berkualitas Tahun 2015”. Dan misinya adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sejak peranannya dalam kandungan sampai dengan usia lanjut (Saifuddin, 2003). Program baru dari keluarga berencana nasional adalah untuk mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera dan keluarga berencana nasional pada paradigma baru adalah menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi sebagai integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga adalah salah satu dan lima matra kependudukan yang sangat mempengaruhi terwujudnya penduduk yang berkualitas (Hanifa, 2007).
            Sudah lebih dari tiga dasa warsa, program KB telah berjalan dan dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari menurunnya angka fertilitas yang semula 5,6 per wanita pada tahun 1980 menjadi 2,6 anak wanita usia subur. Hal ini menunjukkan bahwa program KB telah diterima dan membudaya di masyarakat. Pencapaian program KB dari waktu ke waktu terus meningkat, pada tahun 1997 yaitu 56,4%  dan sangat meningkat menjadi 60,3% pada tahun 2003. Dari pencapaian tersebut, masyarakat lebih memilih alat kontrasepsi yang sifatnya praktis dan efektifitas tinggi seperti pil dan suntik (BKKBN, 2007).
            Pemerintah Indonesia mulai menerima gagasan KB (Keluarga berencana) sejak tahun 1970 dengan membentuk badan koordinator KB Nasional yang pada dasarnya langsung di bawah presiden, sehingga lebih mantap dalam pelaksanaannya, perkembangan menunjukkan bahwa Indonesia dianggap telah berhasil melaksanakan gerakan Nasionalnya dengan mengikutsertakan semua komponen bangsa (Manuaba, 2008). Yang paling meningkat pada penggunaan alat kontrasepsi adalah injeksi atau suntik (Ilyas, 2007).
             Dari data Dinkes Provinsi NAD Tahun 2009 disebutkan bahwa  PUS ada 623.148 pasangan, yang mengikuti program KB sebagai peserta KB baru adalah 74.982 pasangan (12.03%) dengan pemakaian IUD 956 jiwa (1.20%). Metode Operasi Pria (MOP) atau Metode Operasi Wanita (MOW) 303 jiwa (0.38%), Implant 1.275 jiwa (1.59%), Suntik 42.295 jiwa (52.88%), pil 32.036 jiwa (40.05%), kondom 2.996 jiwa (3.75%), Obat vagina 29 jiwa (0.04%),
dan lain-lain 4,52 jiwa (0.12%). Sedangkan yang mengikuti program KB sebagai peserta KB aktif adalah sebesar 328.447 pasangan (52.71%) dengan pemakaian IUD 5.632 jiwa (1.51%), Metode Operasi Pria (MOP)/Metode Operasi Wanita (MOW) 3.950 jiwa (1.06%), Implant 5.726 jiwa (1.54%), Suntik 177.510 jiwa (47.73%), Pil 171.635 jiwa (46.15%), Kondom 9.126 jiwa (2.45%), Obat vagina 39 jiwa (0.01%) dan lain-lain 86 jiwa (0%) (Dinkes NAD 2009).
                 Data dari Dinkes Kabupaten Aceh Besar tahun 2009 disebutkan bahwa PUS ada 28.860 pasangan, yang mengikuti program KB sebagai peserta KB baru adalah 6.521 pasangan (22.60%), dengan pemakaian IUD 21 jiwa (0.32%), Metode Operasi Wanita (MOW) 15 jiwa (0.23%), implant 32 jiwa (0.49%), suntik 2.943 jiwa (44.99%), PIL 3.399 jiwa (52.12%), kondom 120 jiwa (1.84%). Sedangkan yang mengikuti program KB sebagai peserta KB aktif adalah 14.858 pasangan (51.48%) dengan pemakaian IUD 397 jiwa (2.67%), Metode Operasi Wanita (MOW) 978 jiwa (6.58%), implant 726 jiwa (4.89%), suntik 7.151 jiwa (48.13%), PIL 4.642 jiwa (31.24%), kondom 964 jiwa (6.49%) (Dinkes Kabupaten/Kota 2009).
            Data yang diperoleh dari Puskesmas Darul Imarah tahun 2009 jumlah PUS (Pasangan Usia Subur) seluruhnya 838 orang, akseptor KB lama seluruhnya 659 orang, yang terbagi dalam akseptor yang menggunakan pil 393 orang, suntik 320 orang, yang IUD 1 orang, implant 1 orang dan kondom 44 orang. Sedangkan akseptor KB baru seluruhnya 179 orang, yang terbagi dalam akseptor yang menggunakan pil 58 orang, akseptor yang menggunakan suntik 88 orang, yang menggunakan IUD 2 Orang, Implant 1 orang dan kondom sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar antara akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implant. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang besar antara akseptor KB yang menggunakan kontrasepsi pil, suntik, IUD dan implant (Puskesmas Darul Imarah, 2009).
            Faktor yang sangat menentukan dalam pola pengambilan keputusan dan menerima informasi dalam hal pemakaian kontrasepsi adalah pendidikan, seseorang yang berpendidikan rendah dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan jenis kontrasepsi yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kelangsungan pemakaiannya (Ilyas, 2007).
            Berdasarkan gambaran di atas maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu dalam Memilih Alat Kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxxxx Tahun xxxx.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang di atas dan besarnya manfaat alat kontrasepsi, maka penulis tertarik untuk meneliti “Faktor-faktor apa saja yang mendorong ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas Darul Imarah Aceh Besar tahun 2010”.

C.     Tujuan Penelitian
1.   Tujuan Umum
            Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong ibu dalam memilih kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.
b.      Untuk mengetahui pengaruh pendidikan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxxx tahun xxxx.
c.       Untuk mengetahui pengaruh pendapatan ibu dalam memilih alat kontrasepsi di Puskesmas xxxxxxx tahun xxxx.

D.    Manfaat Penelitian
      Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
1.      Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam bidang penelitian terutama tentang program KB terutama kontrasepsi pil, suntik dan IUD.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Merupakan bahan masukkan dalam mengembangkan ilmu program KB dan sebagai referensi bagi penelitian di masa yang akan datang.
3.      Bagi Instansi Pelayanan
Sebagai bahan masukan untuk lebih dapat meningkatkan pelayanan program KB dan dapat memberi pelayanan bagi masyarakat.
4.      Bagi Ibu-Ibu Akseptor
Dapat menambah pengetahuan ibu-ibu akseptor sehingga ibu dapat memilih alat kontrasepsi yang tepat sesuai dengan keadaan kesehatan ibu dan sosial ekonomi.

E.   Keaslian Penelitian
            Penelitian sejenis ini sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Ruslaini (2002) dengan judul penelitian “Faktor yang Mendorong Ibu dalam Memilih Alat Kontrasepsi Pil dan Suntik di Puskesmas Kuta Alam Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh tahun 2002”.
            Yang membedakan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Ruslaini (2002) adalah pada hasil ukur variabel dependent yaitu pil dan suntik saja. Selanjutnya pada variabel independent, penelitian Ruslaini (2002) meninjau dari pendidikan, pengetahuan dan dukungan keluarga.

Cara Cepat Menyusun Skripsi dan Karya Tulis Ilmiah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar “lebih baik sakit gigi daripada bikin skripsi”. Saya juga sering mendapat kiriman pertanyaan tentang bagaimana menyusun skripsi dengan baik dan benar. Ada juga beberapa yang menanyakan masalah teknis tertentu dengan skripsinya. Karena keterbatasan waktu, lebih baik saya jawab saja secara berjamaah di sini. Sekalian supaya bisa disimak oleh audiens yang lain. Karena target pembacanya cukup luas dan tidak spesifik, maka tulisan ini akan lebih memaparkan tentang konsep dan prinsip dasar. Tulisan ini tidak akan menjelaskan terlalu jauh tentang aspek teknis skripsi/penelitian. Jadi, jangan menanyakan saya soal cara menyiasati internal validity, tips meningkatakan response rate, cara-cara dalam pengujian statistik, bagaimana melakukan interpretasi hasil, dan seterusnya. Itu adalah tugas pembimbing Anda. Bukan tugas saya. Apa itu Skripsi Saya yakin (hampir) semua orang sudah tahu apa itu skripsi. Seperti sudah dituliskan di atas, skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3). Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama. Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda mungkin saat ini belum “berhak” untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal. Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang, bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus). Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi, mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah “belajar meneliti”. Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat. Miskonsepsi tentang Skripsi Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya “ditujukan” untuk mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata. Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum, terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach) umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori, hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory. Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain (komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain. Hal-hal yang Perlu Dilakukan Siapkan Diri. Hal pertama yang wajib dilakukan adalah persiapan dari diri Anda sendiri. Niatkan kepada Tuhan bahwa Anda ingin menulis skripsi. Persiapkan segalanya dengan baik. Lakukan dengan penuh kesungguhan dan harus ada kesediaan untuk menghadapi tantangan/hambatan seberat apapun. Minta Doa Restu. Saya percaya bahwa doa restu orang tua adalah tiada duanya. Kalau Anda tinggal bersama orang tua, mintalah pengertian kepada mereka dan anggota keluarga lainnya bahwa selama beberapa waktu ke depan Anda akan konsentrasi untuk menulis skripsi. Kalau Anda tinggal di kos, minta pengertian dengan teman-teman lain. Jangan lupa juga untuk membuat komitmen dengan pacar. Berantem dengan pacar (walau sepele) bisa menjatuhkan semangat untuk menyelesaikan skripsi. Buat Time Table. Ini penting agar penulisan skripsi tidak telalu time-consuming. Buat planning yang jelas mengenai kapan Anda mencari referensi, kapan Anda harus mendapatkan judul, kapan Anda melakukan bimbingan/konsultasi, juga target waktu kapan skripsi harus sudah benar-benar selesai. Berdayakan Internet. Internet memang membuat kita lebih produktif. Manfaatkan untuk mencari referensi secara cepat dan tepat untuk mendukung skripsi Anda. Bahan-bahan aktual bisa ditemukan lewat Google Scholar atau melalui provider-provider komersial seperti EBSCO atau ProQuest. Jadilah Proaktif. Dosen pembimbing memang “bertugas” membimbing Anda. Akan tetapi, Anda tidak selalu bisa menggantungkan segalanya pada dosen pembimbing. Selalu bersikaplah proaktif. Mulai dari mencari topik, mengumpulkan bahan, “mengejar” untuk bimbingan, dan seterusnya. Be Flexible. Skripsi mempunyai tingkat “ketidakpastian” tinggi. Bisa saja skripsi anda sudah setengah jalan tetapi dosen pembimbing meminta Anda untuk mengganti topik. Tidak jarang dosen Anda tiba-tiba membatalkan janji untuk bimbingan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya. Terkadang Anda merasa bahwa kesimpulan/penelitian Anda sudah benar, tetapi dosen Anda merasa sebaliknya. Jadi, tetaplah fleksibel dan tidak usah merasa sakit hati dengan hal-hal yang demikian itu. Jujur. Sebaiknya jangan menggunakan jasa “pihak ketiga” yang akan membantu membuatkan skripsi untuk Anda atau menolong dalam mengolah data. Skripsi adalah buah tangan Anda sendiri. Kalau dalam perjalanannya Anda benar-benar tidak tahu atau menghadapi kesulitan besar, sampaikan saja kepada dosen pembimbing Anda. Kalau disampaikan dengan tulus, pastilah dengan senang hati ia akan membantu Anda. Siapkan Duit. Skripsi jelas menghabiskan dana yang cukup lumayan (dengan asumsi tidak ada sponsorships). Mulai dari akses internet, biaya cetak mencetak, ongkos kirim kuesioner, ongkos untuk membeli suvenir bagi responden penelitian, biaya transportasi menuju tempat responden, dan sebagainya. Jangan sampai penulisan skripsi macet hanya karena kehabisan dana. Ironis kan? Tahap-tahap Persiapan Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan “ditarik” masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing. Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal. Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas. Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah “hafal di luar kepala” sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya. Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980. Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara “baku”. Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik. Kiat Memilih Dosen Pembimbing Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada dosen pembimbing yang “benar-benar membimbing” skripsi Anda dengan intens. Ada pula yang membimbing Anda dengan “melepas” dan memberi Anda kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun skripsi. Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan. Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat Anda. Tentu saja lebih “enak” kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing untuk skripsi Anda. Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat? Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) dosen senior, dan (2) dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi. Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda akan mengalami kesulitan sebagai berikut: * Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat perfeksionis. * Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat. Tapi, keuntungannya: * Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda. * Anda akan “tertolong” saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain (yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan untuk “membantai” Anda. * Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A. Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga tidak “jaim” dan “sok” kepada mahasiswanya. Tapi, kerugiannya, Anda akan benar-benar “sendirian” ketika menghadapi ujian skripsi. Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa dipastikan Anda akan “dihajar” cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda. Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing. Format Skripsi yang Benar Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman, jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan. Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa bagian sebagai berikut. Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini. Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang “gagal” menyusun alignment ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung. Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya. Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan. Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini. Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda). Beberapa Kesalahan Pemula Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi sama sekali sulit untuk dipahami. Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis “sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan” sebagai tujuan risetnya. Hal ini adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan gelar S1. Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I. Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca juga: Joint Hypotheses) Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan. Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding. Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah untuk dibantai dan dicecar habis-habisan. Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara keterbatasan riset dan “kemalasan riset”. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau sempitnya waktu. Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor. Menghadapi Ujian Skripsi Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi. Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji. Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar antara 30 menit hingga 1 jam. Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun teknis. Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian skripsi adalah “konfirmasi” atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well. Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi. Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah “lubang jebakan” agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut. Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji. Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar sangat membantu. Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A. Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa. Pasca Ujian Skripsi Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan kan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian, kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah saya mendapat nilai A. Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda. Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa. Pasca Ujian Skripsi Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi, bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi, Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan. Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya? Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi bangsa ini. Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.
Mudah Kan ... ???