BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rokok merupakan produk yang berbahaya dan juga menimbulkan
ketergantungan. Di dalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya yang 69
diantaranya merupakan zat karsinogenik, dapat menimbulkan kanker. Zat-zat
berbahaya yang terkandung di dalam rokok antara lain : nikotin, tar, karbon
monoksida, sianida, arsen, formalin, nitrosamine, dll. (artilkel kesehatan Wikipedia, 2012)
Efek rokok terhadap kesehatan sangat membahayakan, karena
rokok mengandung berbagai bahan kimia berbahaya. Maka, dengan merokok sama
dengan memasukkan bahan-bahan berbahaya ke dalam tubuh. Penyakit-penyakit yang
diketahui dapat disebabkan oleh rokok antara lain : kanker tenggorokan, kanker
paru-paru, kanker lambung, penyakit jantung koroner, stroke, pneumonia,
gangguan sistem reproduksi, emfisema, asma, angina, impotensi, osteoporosis,
kanker rahim dan keguguran, penyakit berger, tukak lambung dan lain sebagainya
(artikel DetikHealth, 2011).
Meskipun rokok banyak bahayanya dan menimbulkan banyak
penyakit, masih banyak juga orang yang merokok. Hal ini disebabkan karena di
dalam rokok terdapat kandungan nikotin yang akan menimbulkan kecanduan bagi
para penghisapnya sehingga apabila mereka tidak merokok, mereka akan merasakan
gangguan seperti gelisah, berkeringat dingin, sakit perut dan lain sebagainya.
Kemudian mereka menghisap rokok kembali dan nikotin telah menyentuh otak lagi,
barulah merasa tenang dan dapat berkonsentrasi (Pramudiarja, 2011).
Oleh sebab itu banyak perokok yang akan terus menjadi perokok
seumur hidupnya, walaupun mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk berhenti,
mereka sulit menghentikan kecanduan mereka terhadap rokok. Salah satu hal lain
yang turut menjadi keprihatinan adalah jumlah perokok yang semakin meningkat
dari tahun ke tahun, hal ini berarti bahwa terdapat pertambahan perokok baru
setiap saat yang kemungkinan besar akan terus menjadi perokok aktif seumur
hidupnya. Perokok baru tersebut sebagian besar adalah anak-anak & remaja (Pramudiarja,
2011).
The Global Youth Tobacco Survey (2006) mengemukakan data
bahwa tembakau membunuh separuh dari masa hidup perokok, dan separuh perokok
mati pada usia 35-69 tahun. Data endemi dunia menunjukkan, tembakau membunuh
lebih dari 5 juta orang setiap tahunnya. Jika hal ini berlanjut, diperkirakan akan terjadi
10 juta kematian pada tahun 2020. Sekitar 70 persen terjadi di negara
berkembang termasuk Indonesia. Survei tersebut juga mengungkap bahwa 37,3
persen pelajar merupakan perokok aktif. Parahnya, 3 dari 10 pelajar telah
merokok sejak berusia di bawah 10 tahun. Sementara seseorang yang menikah
dengan perokok mempunyai risiko kanker paru-paru sebesar 20-30 persen dan orang
tersebut bisa terkena penyakit jantung. 90 persen orang yang kecanduan narkoba
berawal dari kebiasaan merokok. (Artikel Tribun Kalteng, 2012).
Laporan WHO (2008) dalam Ainal (2011) menyebutkan, saat
ini perokok di dunia mencapai 1,3 milyar orang. Diperkirakan, 900 juta orang
(84%) dari semua perokok hidup di negara-negara berkembang dan negara-negara
ekonomi nomor 3 di dunia setelah China dan India. Jumlah perokok di Indonesia
sebanyak 65 juta orang atau 28 persen dari jumlah penduduk. Artinya, dari
setiap 4 orang terdapat seorang perokok. Berikut adalah negara-negara dengan
perokok terbesar di dunia dan yang menduduki peringkat tertinggi adalah Cina
dengan jumlah perokok sebanyak 390 juta jiwa, kemudian di susul oleh Negara
India dengan jumlah perokok sebanyak 144 juta jiwa, selanjut nya di susul oleh
Negara Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Brazil, Banglades, Jerman, dan Turki.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun
2004 antara lain: rokok menyebabkan 9,8 persen kematian karena penyakit paru
kronik, emfisima dan penyebab dari sekitar 5 persen stroke. Wanita yang merokok
mungkin mengalami penurunan atau penundaan kemampuan hamil, pada pria
meningkatkan risiko impotensi sebesar 50 persen. Ibu hamil yang merokok selama
masa kehamilan ataupun terkena asap rokok di rumah atau dilingkungannya
beresiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah. Seorang bukan perokok yang
menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20-30 persen dan
lebih dari 43 juta anak Indonesia tinggal dengan perokok beresiko mengalami
pertumbuhan paru yang lambat, mudah terkena infeksi saluran pernafasan, infeksi
telinga dan asma (Djmanshiro, 2008).
Data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yang
dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2001 dan 2004 didapatkan
kenaikan pada jumlah perokok baik dewasa maupun anak-anak di Indonesia. Dimana
kenaikan berarti terjadi pada perokok perempuan baik dewasa ataupun remaja
serta anak-anak. Pada tahun 2001 jumlah perokok perempuan dewasa di Indonesia
adalah 1,3 persen yang kemudian pada tahun 2004 angka tersebut naik menjadi 4,5
persen naik 3,5 kali kemudian untuk perempuan remaja usia 15-19 tahun pada
tahun 2001 sebanyak 0,2 persen naik menjadi 1,9 persen pada tahun 2004 naik 9,5 kali. Untuk perokok
anak-anak usia 5-9 tahun pada tahun 2001 sebesar 0,4 persen naik menjadi 1,8
persen pada tahun 2004. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 juga menemukan
bahwa saat ini jumlah perokok remaja berusia 15-19 tahun ada sebanyak 4,2 juta
jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan 2 kali lipat dari tahun 1995 (wahyudi,
2012).
Umur orang mulai merokok dari tahun ke tahun semakin muda.
Jumlah perokok muda yang merokok juga semakin banyak. Di antara 10 orang yang
kecanduan merokok, hanya 2 yang berhasil berhenti merokok. (Abdillah Ahsan,
2010). Pada anak-anak, dampak buruk asap rokok dapat memicu berbagai penyakit
kronis, faktanya lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan
perokok. Data tersebut terungkap dalam The Global Youth Tobacco Survey yang
dilakukan di Indonesia pada tahun 2006. kesimpulannya berarti 64,2 persen anak
indonesia terpapar asap rokok selama di rumah (Artikel Berita viva news, 2011).
Data lain yang terungkap adalah 57 persen rumah tangga di
Indonesia, memiliki sedikitnnya 1 orang perokok. Dari jumlah tersebut, hampir
semuanya kira-kira 91,8 persen merokok di rumah. Kondisi tersebut menjadikan
anak-anak sebagai perokok pasif atau second hand smoker. Dampaknya tentu saja
tidak lebih baik dibandingkan pada perokok aktif. Anak-anak yang terpapar asap
rokok dapat mengalami pertumbuhan paru-paru yang lebih lambat. Akibatnya
menjadi rentan terkena bronkhitis, infeksi saluran napas dan telinga serta
asma. Padahal kesehatan yang buruk di usia dini akan menyebabkan kesehatan yang
buruk pula saat tumbuh dewasa. Hal ini diungkap oleh Menteri Kesehatan RI
Endang Sedyaningsih dalam jumpa pers menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia di
Kemenkes ( Artikel Berita vivanews, 2011).
Masalah kesehatan jangka pendek yang di timbulkan oleh
rokok termasuk diantaranya penyakit yang dapat timbul akibat rokok adalah
gangguan pernafasan, kecanduan nikotin serta meningkatnya resiko untuk menggunakan
bahan berbahaya lain termasuk obat terlarang. Sedangkan masalah jangka
panjangnya adalah kenyataan bahwa sekali orang telah menjadi perokok aktif maka
biasanya akan terus menjadi perokok aktif sepanjang hidupnya (Pramudiarja, 2011).
Di dalam sebuah penelitian yang di lakukan oleh para
peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat University of Buffalo menemukan
bahwa orang yang berhenti merokok selama kurang dari 6 bulan mengkonsumsi lebih
banyak buah dan sayuran daripada yang masih merokok, tetapi yang belum di
ketahui adalah apakah orang yang berhenti merokok lebih banyak mengkonsumsi
buah dan sayuran atau orang yang makan banyak buah dan sayuran lebih mungkin
untuk berhenti merokok. (Gary A. Giovino, 2012).
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nicotine and Tobacco
Research merupakan yang kali pertama mengamati hubungan antara konsumsi buah
dan sayuran dengan upaya berhenti merokok. Para peneliti dari Sekolah Kesehatan
Masyarakat University of Buffalo menyurvei 1.000 orang perokok berusia 25 tahun
ke atas lewat telepon secara acak. Peneliti memantau responden 14 bulan
kemudian dan menanyakan apakah para responden sudah berhenti merokok beberapa
bulan sebelumnya. Penelitian ini menemukan bahwa perokok yang banyak
mengkonsumsi buah dan sayuran 3 kali lebih mungkin berhenti merokok selama
minimal 30 hari dibandingkan perokok yang sedikit mengkonsumsi buah dan
sayuran. Hubungan ini tetap ada bahkan setelah memperhitungkan faktor lain
seperti usia, jenis kelamin, etnis, pendidikan, pendapatan rumah tangga dan
orientasi kesehatan. Peneliti juga menemukan bahwa perokok yang banyak
mengkonsumsi buah dan sayur merokok lebih sedikit setiap harinya dan lebih
rendah tingkat ketergantungan nikotinnya (Gary A. Giovino, 2012).
Dalam sebuah tesis
yang dibuat tahun 2009, menjelaskan bekam bisa menstimulasi produksi eritrosit
baru dan mengganti eritrosit lama yang dikikis karena terpapar oksidan.
Menurutnya, jenis penelitian yang pernah dilakukan itu bersifat quasy experimental. Pada penelitiannya,
pembagian kelompok subjek penelitian dibagi menjadi dua. Pertama Kelompok K-0
sebagai kontrol, caranya dilakukan dua kali pengambilan darah pada vena mediana
cubiti sebanyak 4 mililiter 4 cc, yaitu pada hari pertama dan hari ke-15. Selanjutnya
kelompok K-1 dilakukan sebagai kelompok perlakuan 15 menit sebelum bekam dan 15
hari setelah bekam diambil darah melalui vena mediana cubiti sebanyak 4
mililiter. Kesimpulan dari penelitian/tesis ini mengungkapkan nilai
deformabilitas eritrosit sebelum perlakuan adalah terendah 85,39 persen dan
tertinggi 99,05 persen serta rerata 93,27 persen. Dan nilai deformabilitas
eritrosit sesudah perlakuan adalah terendah 91,05 persen, tertinggi 99,56
persen serta rerata 96,72 persen (Wahyudi, 2012).
Manfaat jangka panjang dari menghentikan kebiasaan merokok
sangatlah fantastis. Menurut Asosiasi Jantung Amerika, mereka yang tidak
merokok rata-rata hidup 14 tahun lebih lama dibandingkan para perokok. Berhenti
lebih awal akan memperpanjang rentang hidup dan dapat menikmati hidup dengan
sistem kardiovaskular yang berfungsi dengan baik ketika beraktivitas dan hidup
menjadi lebih bergairah (artikel kesehatan Republika, 2011).
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Depkes R.I
pada 2007, masyarakat Aceh tergolong sebagai perokok berat dan paling jorok.
Dalam Riskesdas itu Aceh berada diurutan teratas jumlah perokok terbanyak.
Bahkan anak Aceh yang berusia 10 tahun ke atas, sebanyak 29,7% tercatat sebagai
perokok aktif, berdasarkan data tersebut, Perokok di Aceh rata-rata menghisap
19 batang rokok perhari. Karena kurangnya kesadaran mereka merokok di rumah,
82,7% anggota keluarga terkena imbas perokok pasif, termasuk balita (Depkes RI
Riskesdas, 2007).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mulai tahun 2012 merlakukan kawasan tanpa rokok
(KTR). semua aturan ini akan diberlakukan pada 27 Desember 2011 dan
penerapannya mulai berjalan tahun 2012 mendatang. Dasar dibuat aturannya
tercantum dalam Undang-Undang Kesehatan. (profil Dinkes Kota banda Aceh, 2011).
Akan ada tujuh tempat yang menjadi kawasan tanpa rokok
itu, meliputi tempat pelayanan kesehatan misalnya di rumah sakit, puskesmas,
polindes termasuk juga klinik atau praktek kesehatan lainnya. Kemudian tempat
pendidikan, yaitu di sekolah-sekolah dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi
Negeri dan Swasta. Selanjutnya di tempat ibadah, seperti masjid-masjid,
mushalla, TPA dan tempat ibadah non muslim juga tidak dibenarkan merokok.
Ditempat-tempat angkutan umum juga masuk dalam kawasan tanpa rokok begitu juga
dalam mobil angkutan umum tidak dibenarkan merokok. Tempat bermain anak-anak
juga masuk dalam kawasan tanpa rokok. Kemudian tempat kerja atau di kantor-kantor tidak
dibenarkan merokok khusus untuk Kota Banda Aceh. Terakhir adalah tempat-tempat
umum seperti di pasar-pasar dan di toilet umum. Tahap awal akan diberlakukan
Peraturan Walikota dan disebutkan bagaimana sanksinya bagi yang melanggar.
Hingga saat ini belum diberikannya
sanksi yang tegas bagi yang melanggar
tapi hanya diberikan teguran saja. (Profil Dinkes kota Banda Aceh,
2011).
Survey awal yang peneliti lakukan di Desa Jeulingke
berawal dari kantor kepala Desa, dan diketahui bahwa jumlah keseluruhan
masyarakat desa Jeulingke adalah 5.124 jiwa, dan 2.722 diantaranya adalah
laki-laki. Dari jumlah laki-laki
keseluruhan tersebut, terdapat 985 orang laki-laki yang berusia dari 18
sampai dengan 59 tahun yang tersebar di 6 dusun. Salah satu dusun tersebut
adalah dusun Rajawali, di dusun ini terdapat 144 orang laki-laki dewasa yang
berusia 18 sampai 59 tahun. Peneliti mewawancarai beberapa orang masyarakat
tersebut, dan dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa mereka semua
merupakan perokok aktif, yang dalam satu harinya minimal menghabiskan 1 bungkus
rokok. Beberapa orang di antara mereka mengatakan sudah merokok sejak masih
SMP, dan beberapa orang lainnya mengatakan sejak SMA.
Begitu juga halnya dengan dusun lain, yaitu dusun Rawa
Sakti, yang mana terdapat 156 orang laki-laki yang berusia 18 sampai 59 tahun.
Hal yang sama peneliti dapat dari dusun Rajawali, bahwa sebagian besar laki-laki
di dusun Rawasakti juga perokok aktif, dan rata-rata dalam satu hari mereka
juga menghabiskan minimal 1 bungkus rokok.
Dari hasil wawancara
tersebut diketahui, bahwa pengetahuan para masyarakat tersebut tentang rokok
sangat beragam, ada yang tidak tahu sama sekali bahaya rokok, seperti beberapa
orang yang berprofesi kuli bangunan (tukang), dan ada juga yang tahu dan paham
akan bahaya dari rokok tersebut, bahkan ada juga beberapa orang yang berstatus
masih mahasiswa yang tahu dan paham bahwa ada 4000 bahan kimia berbahaya yang
terkandung dalam rokok, namun mereka tetap merokok seperti biasanya.
Secara umum mereka mengatakan merokok dapat menyebabkan
berbagai macam penyakit, namun mereka kurang mengetahui bahwa nikotin di
dalamnya mengakibatkan ketagihan, dan dampak ketagihan nikotin tersebut kurang mereka
sadari. Mereka menganggap merokok itu sebagai hal yang biasa dan normal, tidak
ada yang salah dengan merokok selagi masih sanggup membeli rokok. Dan mereka
percaya, bahwa penyakit-penyakit yang disebabkan rokok tidak muncul sekarang,
namun belakangan saat sudah tua, dan menurut mereka semua orang yang sudah tua
memang mudah terserang penyakit, bukan karena rokok, tapi faktor usia.
Pengetahuan dan
pemahaman yang salah dari masyarakat tersebut tentu saja tidak didasari dengan
pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang rokok dan bahaya merokok. Pengetahuan
menurut Notoatmodjo (2007) merupakan hasil tahu setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu melalui penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan perabaan. Dalam hal ini tentu saja para masyarakat yang
merokok tersebut tidak pernah melihat atau mendengar informasi-informasi
tentang bahaya rokok. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang adalah informasi, yang mana secara umum seseorang yang lebih sering
terpapar dengan informasi, semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tersebut
dan sebaliknya semakin jarang seseorang terpapar dengan informasi, semakin
rendah pengetahuan seseorang tersebut. Namun hal ini juga tidak berdiri
sendiri, karena faktor pendidikan seseorang juga mempengaruhi mudah atau
tidaknya seseorang itu dalam menyerap informasi yang diterimanya.
Fenomena di atas juga dikemukakan Pramudiarja (2011), yang
mengatakan bahwa secara umum para perokok tidak hanya berasal dari kalangan
menengah ke bawah dan juga golongan masyarakat awam namun yang berasal dari
kalangan atas dan termasuk ke dalam berbagai profesi seperti pejabat, wakil
rakyat, pegawai negeri sipil, bahkan petugas kesehatan sendiri yang telah
mengetahui dampak dari kebiasaan merokok namun mereka tetap saja merokok.
Sehingga banyak mengalami kendala dan sulit dalam memberantas kebiasaan merokok
tersebut, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan tidak
begitu bermakna dalam mempengaruhi kebiasaan merokok masyarakat di Indonesia.
Oleh karena itu
berdasarkan data dan fenomena yang telah di uraikan di dalam latar belakang di
atas maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut dengan judul “Gambaran Pengetahuan Masyarakat Dewasa
Tentang Merokok Di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh 2012”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan
dengan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian
ini adalah: “Bagaimana pengetahuan masyarakat tentang merokok di Desa Jeulingke
Kecamatan Syiah kuala Banda Aceh 2012?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara
umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat
tentang merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
2. Tujuan Khusus
Sedangkan
yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis
perokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
b.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang zat berbahaya
yang terkandung dalam rokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh
Tahun 2012.
c.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah
Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
d.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang manfaat
berhenti merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012.
e.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang cara berhenti
merokok di Desa Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh Tahun 2012
D. Manfaat Penelitian
Manfaat
penelitian yang diharapkan dari penelitian adalah
1.
Bagi Peneliti
Sebagai salah satu sarana untuk
mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan di
prodi keperawatan dan merupakan wawasan untuk menambahkan ilmu serta
pengetahuan yang berkaitan dengan masalah merokok dan dampak yang di
timbulkannya.
2.
Bagi Masyarakat
Sebagai
salah satu sarana wawasan yang dapat menambah ilmu pengetahuan, bahwa merokok
tidak baik bagi kesehatan dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan hingga
menyebabkan kematian.
3.
Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan referensi tambahan tentang merokok dan dampak yang di
timbulkannya.
4.
Bagi pelayanan
Sebagai salah satu masukan untuk di
jadikan referensi maupun di kembangkan lebih lanjut.
5.
Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini di maksudkan untuk
menambah wawasan bagi mahasiswa/i dan juga peneliti lain, serta sebagai dasar
referensi untuk penelitian lebih lanjut. Dan peneliti berharap hasil yang telah
di dalam penelitian ini dapat di kembangkan menjadi penelitian yang lebih
komplek, karena hasil penelitian ini hanya menggambarkan tingkat pengetahuan
masyarakat tentang merokok.